Home arrow Indonesia File arrow Teropong
Teropong
"Mutilasi" Budaya Print E-mail
Senin, 07 September 2009

Di tengah seminar internasional di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), kami ikut tour dan informal meeting dengan sejumlah kolega akademisi dari fakultas ilmu sosial dan ilmu budaya universitas itu. Tour antara lain ke Kuala Lumpur dan Putra Jaya, ibu kota kebanggaan Malaysia.

Last Updated ( Senin, 07 September 2009 )
Read more...
 
Semar dan Senjata"KENTUT"- nya Print E-mail
Selasa, 01 September 2009

Pada tulisan kali ini penulis akan membahas tokoh yang sangat menarik didunia pewayangan yang paling banyak mendapat perhatian dan berbagai intrepertasi simbolik yang sangat bervariasi yaitu tokoh Semar dengan senjata ampuhnya "Kentut"yang merupakan bagian terakhir dari trilogi pewayangan.

 

Last Updated ( Selasa, 01 September 2009 )
Read more...
 
Nostradamus dan Ramalannya Print E-mail
Rabu, 15 Juli 2009

Tak peduli bagaimana orang-orang membicarakan Nostradamus dan astrologi, buku ramalannya telah dicetak ulang selama lebih dari 400 tahun.

Last Updated ( Rabu, 15 Juli 2009 )
Read more...
 
Ambisi, Tumbal, dan Intrik Print E-mail
Senin, 06 Juli 2009

Merebut dan mempertahankan kekuasaan merupakan upaya meraih kekuasaan. Hal ini tidak terpisahkan dari peradaban dan sejarah manusia. Dalam sejarah, ambisi seperti yang terjadi di Nusantara telah memberi serangkaian catatan tentang berdiri dan runtuhnya satu kekuasaan serta naik dan jatuhnya penguasa. 

Last Updated ( Senin, 06 Juli 2009 )
Read more...
 
Praga Mpu Prapanca Print E-mail
Rabu, 10 Juni 2009

Alkisah, Mpu Prapanca suatu ketika merasa daif. Terutama sejak dirinya tidak terpakai lagi sebagai dharmmadyaksa kasogatan (hakim tinggi), dalam pemerintahan Baginda Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara. Prapanca kemudian memilih meninggalkan keramaian kota menuju desa. Tapi, Sebagai seorang mantan pejabat sekaligus putera seorang pujangga dan pembesar agama di kerajaan, ia merasakan kecanggungan hidup di desa. Keputusannya pindah kedesa membuat ia terkucil. 

Empu Prapanca yang hidup semasa peralihan antara kerajaan Singasari ke kerajaan Majapahit, membuat catatan yang tertulis dalam kitabnya Negarakertagama. Dalam kitab tersebut ditulislah suatu lokasi yang bernama Kasuranggahan atau Taman Bidadari. Empu Prapanca menuliskan bahwa Hayam Wuruk raja Majapahit pernah mengunjungi Taman Bidadari pada tahun 1359. Taman tersebut terdiri dari kolam teratai yang mengelilingi stupa. Stupa yang kemudian dikenal dengan Stupa Sumberawan.

Last Updated ( Rabu, 10 Juni 2009 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Results 10 - 18 of 44