Home arrow Indonesia File arrow Discourse arrow Korupsi, Perontok Laju Pertumbuhan Ekonomi
Korupsi, Perontok Laju Pertumbuhan Ekonomi Print E-mail
Rabu, 02 Desember 2009

Cuma ada dua masalah besar yang siap merontokkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang ditarget pemerintahan SBY-Boediono (2009-2014). Satu, masalah korupsi. Dua, soal bencana alam. Kedua soal di atas jika terus marak terjadi di Indonesia, tidak mustahil bakal membuyarkan capaian-capaian pembangunan yang sudah dicapai, maupun yang sudah diproyeksikan bersama. Angka-angka matematis muluk-muluk yang sudah ditetapkan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II sebagai target pembangunan lima tahun ke depan, bukan mustahil pula langsung hangus terbakar akibat dua masalah besar tersebut.

Kita semua mendengar, saat membuka acara National Summit 2009 akhir Oktober lalu, Presiden SBY pernah mengungkapkan bahwa pemerintah berani menarget pertumbuhan ekonomi nasional mencapai skor 7 persen, tentu dengan terlebih dahulu menurunkan angka pengangguran hingga angka 5-6 persen, dan memapras habis penduduk miskin hingga angka terendah, 8-10 persen. 

Melihat catatan buruk yang terjadi dalam lima tahun pertama Presiden SBY berkuasa, bangsa ini terus diliputi dengan beragam bencana alam dan bencana sosial berupa skandal korupsi. Tingkat kejahatan korupsi di Indonesia terbilang tinggi. Apalagi upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintah juga belum optimal, benar.

Terlibatnya sejumlah pelaku korupsi kelas kakap yang notabene-nya mereka adalah pejabat negara dan aparat penegak hukum kian memperburuk suasana dalam membongkar mata rantai kejahatan intelektual bernama korupsi.

Dus, terbongkarnya berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh para wakil rakyat, pejabat kejaksaan agung, kepolisian, kehakiman dan pejabat negara lainnya dalam 5 tahun terakhir, satu aspek sebagai rapot prestasi yang bagus bagi upaya-upaya penegakan hukum di Indonesia. Karena bisa menyelamatkan uang negara, terhindar dari kerakusan para koruptor. Sekaligus keberhasilan menangkapi sebagian koruptor itu pertanda buruk bagi kegagalan negara dalam mengupayakan keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya di negeri berpenghuni ratusan juta jiwa ini. 

Soal masih maraknya bencana korupsi (bencana sosial), itu sebagai irasionalisme target pertumbuhan ekonomi nasional. Mengapa penulis mengatakan sebagai sebuah irasionalisme? Sebab, tanpa adanya upaya keras dalam memberantas korupsi, target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7 persen seperti yang dipatok pemerintahan SBY-Boediono bakal jadi isapan jempol belaka. 

Lagipula toh kalaupun seandainya kejahatan korupsi sudah bisa ditekan habis hingga ke angka nol; namun negeri ini tetap dilanda oleh banyak musibah alam; semua juga bisa menjadi sia-sia. Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, badai dan bencana alam lainnya yang marak terjadi di berbagai kota di Indonesia; praktis juga bakal membikin pemerintah kedodoran dalam mengeksekusi berbagai program pembangunan yang sudah direncanakan matang itu. Karena seiring adanya banyak musibah alam, pastilah pemerintah bakal mengalihkan dana keuangan negara (yang semula diprioritaskan untuk pembangunan proyek-proyek negara), lantas dialihkan fungsikan untuk membiayai penanganan korban-korban bencana alam tersebut. 

Imbas sosialnya, pembangunan yang sudah digariskan itu mangkrak gara-gara perhatian pemerintah langsung tertuju pada musibah-musibah alam yang terjadi sewaktu-waktu. Bencana korupsi, yang merupakan bentuk perilaku manusia yang buruk, sebagai hasil budaya peradaban; itu dominan yang bisa menghilangkan atau mengadakan tergantung seratus persen pada manusianya sendiri. Ia bukan garis takdir yang tak bisa diubah, ia hanya kebudayaan yang sengaja tercipta di tengah masyarakat agar memperoleh harta banyak dengan jalan cepat dan gampang, tapi tidak halal. 

Sementara bencana alam, itu berbincang soal perpaduan antara takdir dan perilaku manusia. Terjadinya bencana alam itu bisa terstimulusi akibat perilaku buruk manusia yang merusak lingkungan hidup, tapi juga murni dipicu oleh garis takdir dari Tuhan. Jadi khusus untuk mengatasi dua masalah besar itu soal korupsi dan bencana alam kita bisa mengedepankan pendekatan upaya fisik, intelektual dan batiniah. 

Indonesia adalah bangsa yang besar, di mana di dalamnya tinggal beragam penduduk yang punya begitu ragam baik suku bangsa, bahasa, etnik, gender, agama dan budaya. Penduduk Indonesia adalah tipologi orang-orang yang memiliki potensi kearifan lokal, kecerdasan mental dan kekayaan wacana yang kita yakini mampu mengatasi bencana korupsi dan bencana alam; yang menjadi perontok laju pertumbuhan ekonomi nasional itu.

Oleh Kaminten, pemerhati masalah politik, menetap di Yogyakarta

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >