|
Pemulihan krisis finansial global akibat bangkrutnya bank
investasi AS Lehman Brothers, September 2008 lalu, bakal terganggu lagi
setelah Dubai World " sebuah perusahaan raksasa milik pemerintahan
Dubai, Uni Emirat Arab " Rabu (25/11/09) lalu bangkrut.
Manajemen Dubai World, Rabu menyatakan tidak mampu memenuhi kewajiban
membayar utang kepada kreditornya yang jatuh tempo senilai 60 milyar
dolar AS (keseluruhan utang Dubai World sendiri mencapai 80 milyar
dolar AS).
Meski Dubai World berjanji akan melakukan pembayaran tersebut enam
bulan mendatang, tapi gejolak keuangan dunia yang bisa memicu krisis
finansial global seperti peristiwa September 2008, kini muncul kembali.
Sejak Dubai World mengumumkan gagal bayarnya kepada kreditor, pasar
finansial dunia langsung terguncang.
Kamis (26/11) lalu, misalnya, pasar saham terbesar Eropa, London dan
Paris, jatuh. Di bursa London, indeks jatuh 2,49 persen, sedangkan di
Paris 2,7 persen. Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 3,2 persen, Korea
4,6 persen, dan Hongkong 4,3 persen. Sedangkan bursa AS tutup karena
libur thaknsgiving day. Begitu juga bursa di negara-negara Teluk tutup
karena libur Idul Qurban.
Beberapa kreditor besar yang menanggung kerugian akibat gagal bayarnya
Dubai World tersebut adalah Barclays, Royal Bank of Scotland, Standard
Chartered, HSBC (Hongkong), The Lloyds, DBS (Singapura), sejumah
bank-bank besar India, Mitsubishi dan Sumitomo (Jepang). Melalui sistem
keuangan global yang begitu banyak dan kompleks derivasinya,
bangkrutnya Dubai World niscaya akan menimbulkan gejolak pasar di
seluruh dunia.
Krisis Moral?
Bangkrutnya Dubai World " sebuah holding dengan
puluhan perusahaan di seluruh dunia " mengingatkan kita pada
bangkrutnya Lehman Brothers. Penyebab kebangkrutan Dubai World, pinjam
istilah Johann Hari " kolumnis The Independent Inggris -- sebetulnya
hampir sama dengan Lehman Brothers: krisis moral dan keserakahan
manusia.
Dubai World, sebagaimana Lehman Brothers, dalam menjalankan bisnisnya
sangat serakah. Tragisnya keserakahan tersebut dipicu oleh aksioma
perusahaan itu sendiri: harus berkembang, harus tumbuh, dan harus
menggurita. Semua itu, tentu saja, agar gaji dan bonus direksi makin
besar.
Tidak terpikirkan, bahwa ketika perusahaan itu terus tumbuh, besar, dan
menggurita, berbagai persoalan akan muncul. Misalnya, bagaimana terus
menumbuhkan dan membesarkannya? Bagaimana kalau pasarnya jenuh?
Bagaimana kalau terjadi krisis?
Lehman Brothers, misalnya, melakukan langkah-langkah yang na'f: membeli
surat utang pembangunan perumahan kelas menengah bawah (subprime
mortgage) di AS yang saat itu sebetulnya tidak relevan karena pasar
perumahan di segmen tersebut sudah jenuh. Orang-orang AS ' kaya maupun
miskin -- ditawari rumah dengan iming-iming bahwa rumah-rumah tersebut
adalah sebuah bentuk investasi.
Ketika banyak warga AS terbujuk dan membeli rumah dengan utang (kredit,
yang surat utangnya dibeli Lehman), dan kemudian mereka tidak mampu
membayar cicilannya, maka surat-surat utang Lehman tersebut tidak punya
nilai lagi di pasar.
Padahal, surat-surat utang yang dibeli Lehman ini pun telah dijual lagi
oleh Lehman ke bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lain di seluruh
dunia berikut asuransinya, yang kemudian surat utang plus asuransinya
itu dijual lagi oleh perusahaan yang membelinya dari Lehman, dan
seterusnya. Maka, ketika Lehman bangkrut, terjadilah efek domino yang
luar biasa. Seluruh sistem keuangan dunia terguncang.
Hal yang sama, terjadi pada Dubai World. Jika Lehman jatuh karena
macetnya kredit perumahan kelas menengah bawah di AS, Dubai World jatuh
karena macetnya kredit perumahan super mewah.
Di kota Dubai, misalnya, Dubai World melalui anak perusahaannya
Nakheel, membangun properti yang super mewah dan super prestisius The
Palm Island. Kita bisa bayangkan, perumahan ini dibangun di pulau
buatan di tengah laut yang bentuk lanskapnya mirip jajaran daun palm
(kurma). Saking mewahnya, banyak selebriti dunia ' di antaranya bintang
bola David Backham dan bintang film Brad Pitt memesan rumah tersebut.
Dubai World juga telah membangun hotal paling mewah di dunia 'hotel
bintang tujuh' Burj Al-Arab " di kota Dubai yang aksesorinya
bertaburkan emas. Sejumlah tempat hiburan super mewah dan tempat kasino
prestisius juga dibangun Dubai World untuk menyulap padang pasir Arab
menjadi dunia impian seperti dongeng seribu satu malam.
Pendek kata, Dubai World adalah sebuah perusahaan yang dibangun di
tanah Arab dengan meniru mentah-mentah " pinjam istilah Johann -- moral
masyarakat kapitalis di satu sisi, dan moral para diktator abad
pertengahan di sisi yang lain.
Dalam artikelnya yang berjudul Dubai: A Morally Bankrupt Dictatorship
Built by Slave Labor di The Independent (27 Nov. 2008), Johann Hari
membuka penyebab jatuhnya Dubai World dengan melukiskan borok-borok
perekonomian, moralitas, dan kerusakan lingkungan di tanah gurun
tersebut.
Menurut Johann, wartawan Inggris yang lama bertugas di Teluk,
pembangunan kota Dubai yang di luar tampak sangat prestisius dan megah
itu sebetulnya menyimpan bom waktu yang sangat berbahaya.
Para pengembang di Dubai, misalnya, menganggap kuli-kuli bangunan dari
India, Sri Lanka, Bangladesh, dan Indonesia tidak ubahnya seperti
budak-budak belian. Jika para pembantu rumah tangga dari negara-negara
Asia diperlakukan seperti budak di dalam rumah-rumah mereka, para kuli
bangunan tersebut diperlakukan seperti budak di luar rumah.
Mereka bekerja keras membangun gedung-gedung pencakar langit mewah yang
penuh resiko di tengah panas matahari bersuhu hampir 40 derajat Selsius
dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan tinggal di bedeng-bedeng
darurat tanpa AC.
Paspor mereka dipegang para kontraktor. Jika melawan, mereka dikenai
denda sesuai dengan perjanjian yang tidak dimengerti mereka. Akibatnya,
banyak sekali kecelakaan dan kematian yang menimpa para kuli properti
tersebut. Dengan sistem pemerintahannya yang otoriter, pers tak ada
yang berani memberitakannya.
Kondisi seperti itu terus berlangsung.
Dubai World bermimpi untuk menjadikan Dubai sebagai negeri dongeng.
Dubai World lupa, kata Johann, bahwa negeri impian itu dibangun di
lokasi yang sangat boros energi dan berpotensi mencemari lingkungan.
Johann menggambarkan, air yang dipakai untuk kebutuhan
perumahan-perumahan dan hotel-hotel mewah tesebut berasal dari proses
desalinasi air laut atau impor dari Skandinavia, yang nilainya lebih
mahal dari minyak. Biaya listrik yang dibutuhkan untuk mendinginkan
ruangan-ruangan dan kamar-kamar perumahan dan hotel juga sangat mahal
karena harus melawan panas gurun yang suhunya antara 36-42 derajat
Selsius.
Padahal, listrik tersebut diperoleh dari mesin-mesin pembangkit listrik
raksasa yang membutuhkan bahan bakar fosil yang besar sekali. Biaya
listrik untuk mendinginkan suhu ruangan-ruangan perumahan dan hotel di
Dubai berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan hal yang sama di
London atau Paris. Semua itu merupakan pemborosan energi fosil yang
berujung pada peningkatan karbon dioksida di atmosfir. Dari situlah,
kenapa para pemerhati lingkungan menganggap bahwa Dubai adalah kota di
Timur Tengah yang paling besar kontribusinya pada peningkatan suhu bumi
(global warming).
Gejolak pasar akibat bangkrutnya Dubai World mungkin tidak separah
dampak bangkrutnya Lehman Brothers. Ini terjadi karena Abu Dhabi,
negeri petro dolar saudara nya Dubai dalam himpunan Uni Emirat Arab,
akan membantunya. Pasar rupanya agak tenang setelah penguasa Abu Dhabi
berjanji akan membantu saudaranya yang bangkrut tersebut. Harap dicatat
ini bantuan kedua dari kerajaan Abu Dhabi untuk Dubai World.
Jika manajemen Dubai World tidak memperbaiki diri dan terus
mengembangkan usahanya tanpa strategi yang terencana dan matang, bukan
tidak mungkin kebangkrutan ketiga akan terjadi lagi.
Dalam tradisi Arab, hitungan ketiga sudah termasuk jamak atau plural.
Jika seseorang sudah dibantu tiga kali dan tetap bangkrut, orang Arab
tak akan pernah lagi membantunya. Akankah nasib Dubai World akan
seperti itu dan krisis finansial global akan terjadi lagi? Wallahu
alam.
Oleh Dr. Mustoha Iskandar, Dosen Pascasarjana (S-3) Ekonomi, Unpad, Bandung
|