Home arrow Indonesia File arrow Discourse arrow Bangkrutnyua Dubai World
Bangkrutnyua Dubai World Print E-mail
Kamis, 10 Desember 2009

Pemulihan krisis finansial global akibat bangkrutnya bank investasi AS Lehman Brothers, September 2008 lalu, bakal terganggu lagi setelah Dubai World " sebuah perusahaan raksasa milik pemerintahan Dubai, Uni Emirat Arab " Rabu (25/11/09) lalu bangkrut. 

Manajemen Dubai World, Rabu menyatakan tidak mampu memenuhi kewajiban membayar utang kepada kreditornya yang jatuh tempo senilai 60 milyar dolar AS (keseluruhan utang Dubai World sendiri mencapai 80 milyar dolar AS). 

Meski Dubai World berjanji akan melakukan pembayaran tersebut enam bulan mendatang, tapi gejolak keuangan dunia yang bisa memicu krisis finansial global seperti peristiwa September 2008, kini muncul kembali. Sejak Dubai World mengumumkan gagal bayarnya kepada kreditor, pasar finansial dunia langsung terguncang.

Kamis (26/11) lalu, misalnya, pasar saham terbesar Eropa, London dan Paris, jatuh. Di bursa London, indeks jatuh 2,49 persen, sedangkan di Paris 2,7 persen. Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 3,2 persen, Korea 4,6 persen, dan Hongkong 4,3 persen. Sedangkan bursa AS tutup karena libur thaknsgiving day. Begitu juga bursa di negara-negara Teluk tutup karena libur Idul Qurban. 

Beberapa kreditor besar yang menanggung kerugian akibat gagal bayarnya Dubai World tersebut adalah Barclays, Royal Bank of Scotland, Standard Chartered, HSBC (Hongkong), The Lloyds, DBS (Singapura), sejumah bank-bank besar India, Mitsubishi dan Sumitomo (Jepang). Melalui sistem keuangan global yang begitu banyak dan kompleks derivasinya, bangkrutnya Dubai World niscaya akan menimbulkan gejolak pasar di seluruh dunia.

Krisis Moral?

Bangkrutnya Dubai World " sebuah holding dengan puluhan perusahaan di seluruh dunia " mengingatkan kita pada bangkrutnya Lehman Brothers. Penyebab kebangkrutan Dubai World, pinjam istilah Johann Hari " kolumnis The Independent Inggris -- sebetulnya hampir sama dengan Lehman Brothers: krisis moral dan keserakahan manusia. Dubai World, sebagaimana Lehman Brothers, dalam menjalankan bisnisnya sangat serakah. Tragisnya keserakahan tersebut dipicu oleh aksioma perusahaan itu sendiri: harus berkembang, harus tumbuh, dan harus menggurita. Semua itu, tentu saja, agar gaji dan bonus direksi makin besar. 

Tidak terpikirkan, bahwa ketika perusahaan itu terus tumbuh, besar, dan menggurita, berbagai persoalan akan muncul. Misalnya, bagaimana terus menumbuhkan dan membesarkannya? Bagaimana kalau pasarnya jenuh? Bagaimana kalau terjadi krisis? 

Lehman Brothers, misalnya, melakukan langkah-langkah yang na'f: membeli surat utang pembangunan perumahan kelas menengah bawah (subprime mortgage) di AS yang saat itu sebetulnya tidak relevan karena pasar perumahan di segmen tersebut sudah jenuh. Orang-orang AS ' kaya maupun miskin -- ditawari rumah dengan iming-iming bahwa rumah-rumah tersebut adalah sebuah bentuk investasi. 

Ketika banyak warga AS terbujuk dan membeli rumah dengan utang (kredit, yang surat utangnya dibeli Lehman), dan kemudian mereka tidak mampu membayar cicilannya, maka surat-surat utang Lehman tersebut tidak punya nilai lagi di pasar. 

Padahal, surat-surat utang yang dibeli Lehman ini pun telah dijual lagi oleh Lehman ke bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lain di seluruh dunia berikut asuransinya, yang kemudian surat utang plus asuransinya itu dijual lagi oleh perusahaan yang membelinya dari Lehman, dan seterusnya. Maka, ketika Lehman bangkrut, terjadilah efek domino yang luar biasa. Seluruh sistem keuangan dunia terguncang.

Hal yang sama, terjadi pada Dubai World. Jika Lehman jatuh karena macetnya kredit perumahan kelas menengah bawah di AS, Dubai World jatuh karena macetnya kredit perumahan super mewah. 

Di kota Dubai, misalnya, Dubai World melalui anak perusahaannya Nakheel, membangun properti yang super mewah dan super prestisius The Palm Island. Kita bisa bayangkan, perumahan ini dibangun di pulau buatan di tengah laut yang bentuk lanskapnya mirip jajaran daun palm (kurma). Saking mewahnya, banyak selebriti dunia ' di antaranya bintang bola David Backham dan bintang film Brad Pitt memesan rumah tersebut. 

Dubai World juga telah membangun hotal paling mewah di dunia 'hotel bintang tujuh' Burj Al-Arab " di kota Dubai yang aksesorinya bertaburkan emas. Sejumlah tempat hiburan super mewah dan tempat kasino prestisius juga dibangun Dubai World untuk menyulap padang pasir Arab menjadi dunia impian seperti dongeng seribu satu malam. Pendek kata, Dubai World adalah sebuah perusahaan yang dibangun di tanah Arab dengan meniru mentah-mentah " pinjam istilah Johann -- moral masyarakat kapitalis di satu sisi, dan moral para diktator abad pertengahan di sisi yang lain.

Dalam artikelnya yang berjudul Dubai: A Morally Bankrupt Dictatorship Built by Slave Labor di The Independent (27 Nov. 2008), Johann Hari membuka penyebab jatuhnya Dubai World dengan melukiskan borok-borok perekonomian, moralitas, dan kerusakan lingkungan di tanah gurun tersebut.

Menurut Johann, wartawan Inggris yang lama bertugas di Teluk, pembangunan kota Dubai yang di luar tampak sangat prestisius dan megah itu sebetulnya menyimpan bom waktu yang sangat berbahaya.

Para pengembang di Dubai, misalnya, menganggap kuli-kuli bangunan dari India, Sri Lanka, Bangladesh, dan Indonesia tidak ubahnya seperti budak-budak belian. Jika para pembantu rumah tangga dari negara-negara Asia diperlakukan seperti budak di dalam rumah-rumah mereka, para kuli bangunan tersebut diperlakukan seperti budak di luar rumah. 


Mereka bekerja keras membangun gedung-gedung pencakar langit mewah yang penuh resiko di tengah panas matahari bersuhu hampir 40 derajat Selsius dengan upah yang hanya cukup untuk makan dan tinggal di bedeng-bedeng darurat tanpa AC. 

Paspor mereka dipegang para kontraktor. Jika melawan, mereka dikenai denda sesuai dengan perjanjian yang tidak dimengerti mereka. Akibatnya, banyak sekali kecelakaan dan kematian yang menimpa para kuli properti tersebut. Dengan sistem pemerintahannya yang otoriter, pers tak ada yang berani memberitakannya.

Kondisi seperti itu terus berlangsung. Dubai World bermimpi untuk menjadikan Dubai sebagai negeri dongeng. Dubai World lupa, kata Johann, bahwa negeri impian itu dibangun di lokasi yang sangat boros energi dan berpotensi mencemari lingkungan. 

Johann menggambarkan, air yang dipakai untuk kebutuhan perumahan-perumahan dan hotel-hotel mewah tesebut berasal dari proses desalinasi air laut atau impor dari Skandinavia, yang nilainya lebih mahal dari minyak. Biaya listrik yang dibutuhkan untuk mendinginkan ruangan-ruangan dan kamar-kamar perumahan dan hotel juga sangat mahal karena harus melawan panas gurun yang suhunya antara 36-42 derajat Selsius.

Padahal, listrik tersebut diperoleh dari mesin-mesin pembangkit listrik raksasa yang membutuhkan bahan bakar fosil yang besar sekali. Biaya listrik untuk mendinginkan suhu ruangan-ruangan perumahan dan hotel di Dubai berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan hal yang sama di London atau Paris. Semua itu merupakan pemborosan energi fosil yang berujung pada peningkatan karbon dioksida di atmosfir. Dari situlah, kenapa para pemerhati lingkungan menganggap bahwa Dubai adalah kota di Timur Tengah yang paling besar kontribusinya pada peningkatan suhu bumi (global warming).

Gejolak pasar akibat bangkrutnya Dubai World mungkin tidak separah dampak bangkrutnya Lehman Brothers. Ini terjadi karena Abu Dhabi, negeri petro dolar saudara nya Dubai dalam himpunan Uni Emirat Arab, akan membantunya. Pasar rupanya agak tenang setelah penguasa Abu Dhabi berjanji akan membantu saudaranya yang bangkrut tersebut. Harap dicatat ini bantuan kedua dari kerajaan Abu Dhabi untuk Dubai World. 

Jika manajemen Dubai World tidak memperbaiki diri dan terus mengembangkan usahanya tanpa strategi yang terencana dan matang, bukan tidak mungkin kebangkrutan ketiga akan terjadi lagi. 

Dalam tradisi Arab, hitungan ketiga sudah termasuk jamak atau plural. Jika seseorang sudah dibantu tiga kali dan tetap bangkrut, orang Arab tak akan pernah lagi membantunya. Akankah nasib Dubai World akan seperti itu dan krisis finansial global akan terjadi lagi? Wallahu alam.

 
Oleh Dr. Mustoha Iskandar, Dosen Pascasarjana (S-3) Ekonomi, Unpad, Bandung

 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated ( Rabu, 16 Desember 2009 )
 
< Prev   Next >