Berada
di Kopenhagen serasa berada di "rumah sendiri" dan tidak membosankan.
Hari-hari negosiasi di Kopenhagen jauh berbeda dengan kesahajaan kota.
Ketegangan, kebosanan, harapan, "deg-degan", menerpa negosiator dan
peserta lain yang mencapai 15.000 orang, termasuk delegasi Indonesia
yang berjumlah 60 orang.
Seminggu sudah berlalu,
perundingan
menuju drafting text hingga tengah malam. Banyak pihak memperkirakan "tarik-menarik kepentingan politik negara" akan lebih mengemuka. Saking
pentingnya Kopenhagen, tidak kurang dari 50 kepala negara dipastikan
akan hadir, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden AS
Barack Obama. Presiden Yudhoyono tiba di Kopenhagen pada 17 Desember, "lebih cepat" satu hari dibandingkan Presiden Obama.
26 persennya SBY di G-20
Keberanian
Presiden Yudhoyono mengumumkan penurunan emisi karbon secara sukarela
pada G-20 Summit, Pittsburgh, Amerika Serikat, September lalu, membawa
?pengaruh? baru dalam perundingan Climate Change Talk sebelumnya hingga
Kopenhagen.
Angka 26 persen dengan upaya sendiri dan angka 41
persen dengan bantuan luar negeri tersebut seakan menjawab tantangan
negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang mensyaratkan negara
berkembang untuk punya target penurunan emisi.
Kepemimpinan
Indonesia dalam negosiasi perubahan iklim kembali ditunjukkan oleh
Yudhoyono sebagai seorang presiden di negara yang rentan terhadap
dampak perubahan iklim. ?Gayung bersambut? dan terbukti dengan
keluarnya angka target dari China dan India.
India mengikuti
jejak Indonesia dengan angka target penurunan emisi 25 persen pada
tahun 2020 dari tingkat emisi tahun 2005. Sementara China dengan target
yang lebih tinggi, yaitu 40 persen sampai 45 persen.
Panas bumi
Apakah
target sebesar 26 persen itu akan tercapai? Artinya, Indonesia akan
menurunkan emisi pada tingkat 0,59 giga ton CO ekuivalen dari total
emisi karbon tahun 2020, yaitu 2,95 giga ton CO ekuivalen. Bidang
energi akan bertanggung jawab mengurangi emisi 0,03 giga ton CO
ekuivalen.
Untuk bidang energi, pemakaian energi panas bumi dan
pengembangan energi tenaga air adalah sebagai target utama pemerintah
untuk sektor hilirnya, sedangkan sektor hulu melalui upaya pengembangan
budaya hemat energi dan pemakaian perangkat hemat energi. Selanjutnya
kita lihat apakah target tersebut realistis atau tidak?
Jika
diasumsikan keberhasilan program energi di sektor hilir akan mencapai
tingkat reducing emisi karbon sebesar 5 persen, dan diasumsikan lagi
jika pengembangan energi air berkontribusi sebesar 5 persen emisi
karbon sektor energi, maka sisa 90 persen pengurangan emisi karbon akan
menjadi beban sektor hulu 0,027 giga ton CO ekuivalen atau 27 juta ton
CO ekuivalen dari pengembangan energi panas bumi
Pemerintah
mengisyaratkan pengembangan energi panas bumi baru 1.000 MW dari usaha
pemerintah dan 2.000 MW dari usaha swasta, total 3.000 MW pada 2020.
Target ini sebenarnya masih jauh di bawah target dalam Kebijakan Energi
Nasional, yaitu 9.500 MW pada 2025. Pemerintah mencoba lebih realistis!
Proyeksi pengembangan
Dengan
pengembangan model ekonometrika untuk kasus panas bumi Indonesia,
dengan fungsi pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi panas bumi
itu sendiri, didapatlah proyeksi pengembangan energi panas bumi
Indonesia, seperti terlihat pada
Grafik 1.
Terlihat bahwa pengembangan energi panas bumi prospeknya amat bagus di Indonesia
dan
diperkirakan akan naik sangat tajam mencapai 16.600 MW pada 2100.
Sementara 2020 pengembangan energi panas bumi ini akan mencapai 3.100
MW. Akan melebihi target yang ditetapkan pemerintah sebesar 3.000 MW.
Kredit emisi
Pertanyaan berikut adalah, bagaimana dengan potensi pengurangan emisi karbonnya?
Grafik 2
memperlihatkan potensi pengurangan emisi karbon akan mencapai maksimum 20 juta ton CO
ekuivalen tahun 2020, itu pun jika diasumsikan semua energi panas bumi
diperuntukkan mengurangi batu bara sebagai sumber energi di Indonesia.
Masih selisih 7 juta ton CO
ekuivalen dan angka ini bukanlah angka yang dapat diabaikan.
Sebelum dibahas lebih lanjut bagaimana usulan solusinya, akan dijelaskan lebih lanjut tentang potensi kredit emisi.
Tidak
fair jika tidak dihitung potensi karbon kredit atau CDM (clean
development mechanism) dari usaha energi panas bumi tersebut.
Co-benefit yang didapatkan yaitu akan diperoleh besaran kredit emisi
sebesar 2 miliar dollar AS per tahun pada 2020 dengan asumsi nilai
kredit emisi 100 dollar AS per ton karbon tahun 2020. Angka ini akan
mungkin lebih besar jika Kopenhagen "sukses untuk bumi".
Tantangan di depan
Kembali
ke angka 7 juta ton CO ekuivalen, bagaimana mencukupi kekurangannya?
Salah satu jalan keluar yang sangat proekonomi Indonesia adalah dengan
memanfaatkan hasil jual karbon kredit untuk pengembangan potensi energi
terbarukan lainnya, seperti energi matahari, energi angin, biodiesel,
dan pemanfaatan energi coal bed methane. Ternyata kebijakan yang
prolingkungan mampu mendorong ekonomi sekaligus menunjang pembangunan
berkelanjutan.
ARMI SUSANDI
Ketua Program Studi Meteorologi ITB; Wakil Ketua Pokja Adaptasi-Dewan
Nasional Perubahan Iklim dan Delegasi Indonesia untuk Kopenhagen