Kerbau yang diarak para pengunjuk rasa dipandangnya
sebagai perendahan martabat dan pelanggaran kepantasan. Jadi, muncullah
perdebatan etis tentang pelaksanaan demonstrasi. Padahal, persoalan itu
lebih banyak bersinggungan dengan tek- nis tata krama daripada etika.
Yudhoyono juga sering dikecam karena dalam berkomunikasi menempatkan
diri sebagai kor- ban yang teraniaya dan memohon-mohon untuk diberi
belas kasihan.
Namun, di luar negeri, setidaknya Asia Pasifik,
gaya berkomunikasi Yudhoyono meraih apresiasi. Hal ini terlihat dari
penghargaan Gold Standard yang diberikan oleh PublicAffairsAsia. Salah
satu faktor pemberian penghargaan itu adalah kesuksesan komunikasi
politik Yudhoyono yang membawanya kembali terpilih sebagai Presiden RI
untuk periode kedua.
Pertimbangan lain, Yudhoyono dinilai sebagai
komunikator politik yang efektif dalam menjalankan tugas kepresidenan,
baik di lingkup domestik maupun internasional. Yudhoyono berhasil
menyisihkan finalis lain, seperti Perdana Menteri Thailand Abhisit
Vejjajiva dan Ryan Gawan yang menjalankan kampanye sosial di Afganistan
melalui Save The Children, Inggris (Kompas, 6/2/2010).
Penghargaan
sebagai komunikator politik terbaik di Asia Pasifik adalah nilai
prestisius yang tidak mudah dicapai. Harus diakui dalam berkomunikasi
Yudhoyono menunjukkan cara berbicara yang santun, kalimat-kalimat yang
diucapkannya tertata rapi, intonasi bicaranya berwibawa, dan rona
wajahnya tidak emosional.
Mungkin inilah komunikasi ala Asia yang
diinginkan banyak pihak. Tidak menyakiti perasaan orang lain dan
kelembutan menjadi hal yang diperhitungkan. Namun, apakah hal itu
memenuhi kriteria komunikasi yang efektif?
Esensialisme ketimuran
Komunikasi
merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada
komunikan. Inilah definisi komunikasi yang lebih menitikberatkan pada
peran komunikator daripada keberadaan komunikan. Dalam ranah kehidupan
politik, hal ini ditunjukkan dengan kemampuan komunikator dalam
mengemas pesan sehingga bisa dipahami rakyat yang menerimanya.
Kalau
pesan itu disampaikan tidak tegas, halus, dan penuh ambiguitas sehingga
melahirkan banyak tafsir, komunikasi tidak bisa dianggap berhasil.
Namun, dalam ranah nilai ketimuran, gaya berkomunikasi itu yang
disanjung. Pihak komunikator menampilkan kelembutan dan kehati-hatian
bicara. Pihak komunikan (rakyat) hanya berkedudukan sebagai penerima
pesan yang pasif.
Padahal, komunikasi efektif hanya terjadi jika
komunikator dan komunikan melebur sebagai partisipan. Ada kesetaraan di
dalamnya karena tujuan komunikasi adalah kesepahaman dan kebersamaan
(common-ness). Seorang pemimpin negara harus juga mampu menempatkan
diri seba- gai pendengar yang baik dan bukan sekadar pihak yang melulu
berbicara. Misalnya, ketika menanggapi aksi-aksi demonstrasi tidak
perlu memberi komentar yang mempersoalkan kepantasan cara menyampaikan
pendapat. Substansi pesan pengunjuk rasa yang harus dicerna sang
pemimpin.
Pengertian komunikasi yang menempatkan kesetaraan itu
mudah dicurigai amat liberal dan kebarat-baratan. Melukai perasaan
adalah tabu yang harus dihindari. Contoh kasus ini diungkapkan oleh K
Bertens (2009) yang menyatakan, di Indonesia larangan moral yang paling
penting adalah grief niet (tidak menyakiti). Adapun di Belanda larangan
moral yang paling diutamakan adalah lieg niet (jangan berbohong). Di
dunia Barat berbohong dianggap dosa besar yang bisa menghancurkan
reputasi. Di Timur menyakiti perasaan dipandang sebagai ketidakberesan
moral yang besar.
Dari sudut pandang ini menjadi bisa diketahui
mengapa kalangan pemimpin politik di Asia, terlebih lagi di Indonesia,
lebih menyukai kehalusan daripada watak keterusterangan. Menyakiti
perasaan merupakan pantangan yang mutlak. Demonstran harus
mempraktikkan gaya komunikasi ini kalau tidak ingin dituding sebagai
orang-orang yang tidak mengerti adab.
Padahal, nilai-nilai Timur
dan Barat itu merupakan hasil imajinasi, sesuatu yang difantasikan
keberadaannya. Agaknya, kalangan petinggi negara menganggapnya sebagai
realitas esensialistik yang tidak bisa diubah. Apabila esensialisme
ketimuran ini yang selalu dipelihara, komunikasi politik yang setara
tidak mungkin bisa diciptakan. Pemimpin negara menjadi komunikator yang
pasti meraih kemenangan. Para pengunjuk rasa harus mengemas pesan-pesan
aspiratifnya sesuai dengan selera pihak yang berkuasa.
Persoalan muka
Berdemonstrasi
dengan bahasa yang sarkastik, terlebih lagi mengarak kerbau di jalanan
sebagai simbol yang merendahkan wibawa petinggi negara, pada akhirnya
dianggap sebagai perilaku politik yang mencoreng muka penguasa. Muka
atau wajah (face) dalam ranah komunikasi di dunia Timur tidak hanya
bermakna harfiah sebagai bagian tubuh. Muka bisa berarti sebagai harga
diri yang harus dijunjung tinggi, seperti ungkapan ?kehilangan muka?.
Muka
dapat diartikan pula sebagai cara menyenangkan dan menjilat pihak yang
lebih berkuasa, misalnya ungkapan "mencari muka". Para demonstran yang
dituding tidak etis tampaknya dinilai sebagai pihak yang hendak "menghilangkan muka".
Berkaitan dengan muka, menarik jika kita
mengkaji face negotiation theory yang dikemukakan Stella-Ting Toomey
(2005). Muka adalah citraan publik tentang individu atau kelompok.
Masyarakat harus melihat dan mengevaluasi komunikasi berdasarkan pada
norma dan nilai kultural tentang muka ini. Pada budaya yang jarak
kekuasaannya kecil, kewenangan dipandang sebagai hal yang didapatkan
dan kekuasaan didistribusikan secara merata. Pada budaya yang jarak
kekuasaannya besar, otoritas dianggap sebagai hal yang diwariskan,
kekuasaan dari atas ke bawah, dan si pemimpin tidak pernah bersalah.
Nilai-nilai
komunikasi politik di Asia, apalagi di Indonesia, jelas berada pada
jarak kekuasaan yang besar. Muka menjadi hal yang sakral dan tidak
boleh dinodai. Demonstrasi harus menghormati muka pejabat. Mencoreng
atau mendeformasi muka menjadi perilaku yang terkutuk. Namun, bagaimana
kalau muka itu dipahami dalam tilikan Emmanuel Levinas (1906-1995)?
Muka atau wajah berarti orang lain dalam keberlainannya yang tidak
boleh direngkuh. Wajah itu mengimbau agar kalangan pejabat negara
menjalankan kebaikan dan keadilan. Wajah itu bisa jadi muncul dalam
figur demonstran yang menyuarakan para yatim dan orang miskin yang
diabaikan.
Pemimpin menjadi komunikator yang baik ketika
berkomunikasi tidak melulu memerhatikan muka sendiri, melainkan
berkomunikasi dengan wajah Levinasian.
TRIYONO LUKMANTORO Dosen FISIP Universitas
Diponegoro, Semarang