Di luar kecenderungan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk terus mengeluh secara publik, kini "ancam-mengancam" di
antara para politisi yang tergabung dalam koalisi politik pendukung
Presiden menjadi fenomena baru. Sekjen Partai Demokrat Amir Syamsuddin
mengatakan, Presiden SBY sedang mempertimbangkan dengan serius usulan
perombakan kabinet jika parpol koalisi mengambil posisi berbeda dengan
pemerintah terkait skandal Bank Century. Arah ucapan Amir Syamsuddin
tampaknya adalah Partai Golkar dan PKS yang tampak cukup keras
mengkritisi pemerintahan SBY terkait temuan Pansus Century.
"Ancaman"
Sekjen Partai Demokrat ternyata tidak membuat parpol koalisi gentar.
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, misalnya, menyatakan bahwa
partainya tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat, melainkan dengan
Presiden SBY yang terpilih dalam Pemilu 2009. Menurut Aburizal, tujuan
koalisi adalah untuk membangun pemerintahan yang baik dan menjunjung
kebenaran.
Gertak politik
Sesuai
konstitusi, pengangkatan dan pemberhentian menteri-menteri negara
merupakan otoritas Presiden. Itu artinya, setiap saat SBY pada dasarnya
bisa mengangkat, memberhentikan, atau bahkan merombak kabinet jika
kinerja menteri negara dinilai buruk. Namun, perombakan kabinet ketika
pemerintahan hasil pemilu baru bekerja 100 hari barangkali juga terlalu
dini. Apalagi sebelumnya para menteri telah melalui semacam uji
kelayakan oleh SBY di Puri Cikeas, Bogor.
Pengalaman periode
2004-2009 memperlihatkan, perombakan pertama atas Kabinet Indonesia
Bersatu (KIB) I dilakukan Presiden SBY setelah lebih dari setahun usia
pemerintahan. Lagi pula terlalu riskan dan berisiko bagi SBY jika
konteks perombakan kabinet seperti diwacanakan Partai Demokrat terkait
komposisi jatah kursi parpol koalisi dalam KIB II karena secara
obyektif Presiden masih membutuhkan dukungan koalisi yang dibentuknya
hingga 2014. Perubahan formasi kursi parpol di kabinet tidak akan
pernah menghentikan sikap kritis parpol koalisi seperti dibayangkan
elite Partai Demokrat. Sebaliknya, pilihan perombakan kabinet secara
demikian justru kontra-produktif bagi kelangsungan pemerintahan SBY.
Karena
itu, isu perombakan kabinet yang diwacanakan Amir Syamsuddin tampaknya
sekadar "gertak politik" terhadap sikap kritis parpol koalisi yang
dinilai cenderung menyalahkan pemerintahan SBY terkait skandal Bank
Century. Persoalannya, hingga kini pada umumnya parpol koalisi belum
mengemukakan sikap resmi mereka terkait temuan Pansus Century. Silang
pendapat yang panas di Pansus sebenarnya masih merupakan sikap politik
individual para politisi parpol koalisi yang belum tentu menjadi sikap
resmi parpol masing-masing.
Berbeda konteks
Bagi
kalangan Partai Demokrat, sikap kritis parpol koalisi dalam Pansus
Century semestinya bisa menjadi dasar bagi SBY untuk meninjau kembali
formasi KIB II. Sepintas lalu harapan seperti ini seolah- olah masuk
akal. Namun, yang dilupakan oleh elite partai yang juga dibina oleh SBY
ini adalah bahwa parpol koalisi pun berkewajiban menjalankan fungsi
pengawasan DPR terhadap pemerintah. Selain itu, secara obyektif Partai
Demokrat yang kursinya relatif terbatas juga membutuhkan parpol koalisi
dalam mengawal pemerintahan ke depan.
Dalam kaitan ini, sangat
wajar apabila Golkar dan PKS sama sekali tidak takut menghadapi ancaman
perombakan kabinet. Golkar dan PKS tampaknya agak yakin bahwa Presiden
SBY tidak akan merombak kabinet yang bisa berakibat fatal bagi
kelangsungan dukungan politik terhadap pemerintahannya. Bagi dua parpol
ini, "target" perombakan kabinet semestinya tidak terkait formasi kursi
parpol koalisi dalam KIB II, tetapi lebih terkait pejabat publik yang
bertanggung jawab dalam skandal Bank Century.
Arah sikap kritis
Golkar dan PKS tampaknya memang tertuju pada mantan Gubernur Bank
Indonesia Boediono dan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan Sri
Mulyani Indrawati. Namun, karena Boediono adalah Wapres dan menyentuh
posisinya berarti memasuki ranah pemakzulan yang memerlukan proses
politik panjang dan sangat berisiko, maka bagi Golkar dan PKS, "tak ada
rotan, akar pun jadi". Artinya, konteks perombakan kabinet di mata
Golkar dan PKS bukanlah mengubah formasi parpol koalisi dalam kabinet,
melainkan lebih pada pencopotan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.
Penjara bagi SBY
Pertanyaannya
kemudian, apakah Presiden SBY bakal memenuhi syahwat politik Golkar dan
PKS dengan mengorban- kan Sri Mulyani yang dikenal profesional, jujur,
dan secara obyektif memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan
para menteri dari politisi? Barangkali inilah yang tengah dipikirkan
dengan serius oleh SBY. Pilihan yang jelas tidak mudah, antara
mengorbankan koalisi politik pendukung pemerintahan, atau menjadikan
menteri cemerlang seperti Sri Mulyani sebagai ?tumbal? politik demi
?harmoni politik? dan kelangsungan kekuasaan.
Ini juga sekaligus
menjadi pelajaran pahit bagi Presiden SBY yang tidak percaya diri meski
memperoleh mandat begitu besar dan memenangi pemilu secara absolut.
Koalisi politik yang mencakup tiga perempat kekuatan partai di DPR kini
benar-benar menjadi "penjara" bagi sikap kompromistis dan
ketidaktegasan Yudhoyono sendiri.
Ya, penjara politik bagi
Presiden, tetapi kenyamanan politik bagi parpol koalisi, katakanlah,
seperti dinikmati "ratu suap" Artalyta Suryani di Pondok Bambu.
Syamsuddin Haris Profesor Riset Ilmu Politik LIPI