Juru
Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Jakarta, Minggu,
menjelaskan, peninjauan itu dilakukan Presiden untuk memastikan latihan
perang TNI merupakan simulasi pertempuran yang serealistik mungkin.
Pada latihan pemantapan terpadu itu, Presiden turun dari KRI Surabaya
591 menggunakan tank amfibi LVT-7 A1 bersama pasukan pendarat amfibi.
Dalam
rapat terbatas yang berlangsung Sabtu malam di tengah Selat Sunda,
Presiden Yudhoyono memetakan potensi ancaman yang mesti dihadapi TNI
AL, khususnya korps Marinir. Presiden membahas pula bagaimana potensi
ancaman itu mesti direspons dengan kekuatan yang ada serta peningkatan
kemampuan dan persenjataan yang dibutuhkan.
Rapat diikuti oleh
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto; Menteri
Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa; Menteri Sekretaris Negara Sudi
Silalahi; Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro; Panglima TNI Djoko
Santoso; serta para kepala staf angkatan TNI.
Julian mengatakan, rapat tersebut diawali dengan pemaparan Komandan Korps Marinir Mayjen (Mar) Alfan Baharudin
mengenai
kondisi obyektif kemampuan korps Marinir. Minggu siang, Presiden
kembali ke Jakarta dengan pesawat dari Bandara Raden Intan, Lampung.
(DAY)