Data
Bank Indonesia menunjukkan, porsi kredit industri manufaktur terhadap
total kredit perbankan awal 2002 masih 37,6 persen. Namun, pada
tahun-tahun berikutnya porsi kredit manufaktur menurun, hingga November
2009 hanya 17,2 persen.
Merosotnya kinerja industri manufaktur
juga terlihat dari kontribusinya yang kian mengecil dalam menghasilkan
produk domestik bruto.
Menurut Kepala Ekonom BNI Tony
Prasetiantono, akhir pekan lalu di Jakarta, krisis keuangan global
tahun 2008 memperburuk kinerja industri manufaktur. "Krisis keuangan
global menyebabkan permintaan terhadap produk manufaktur menurun,
terutama otomotif dan elektronik," kata Tony.
Anjloknya kinerja
industri manufaktur adalah masalah struktural dan terjadi secara
sistematis. Buruknya infrastruktur jalan, banyaknya pungutan liar,
lambatnya birokrasi, lemahnya penegakan hukum, dan peraturan yang
kurang mendukung menyebabkan ekonomi biaya tinggi di sektor manufaktur
dan sektor- sektor lain. Ini membuat daya saing produk industri
Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan China, misalnya.
Proses
deindustrialisasi di Indonesia pun terjadi. Banyak produk manufaktur
yang diimpor. Akhirnya, yang berkembang justru sektor perdagangan yang
relatif sedikit menyerap tenaga kerja.
Terbalik dengan sektor
manufaktur, porsi kredit ke sektor perdagangan meningkat, dari 15,2
persen pada Januari 2002 menjadi 21 persen pada November 2009. Sektor
jasa juga terus berkembang, tecermin dari porsi kredit yang meningkat
dari 16 persen menjadi 23 persen.
Menurut Direktur Utama BRI
Sofyan Basir, selama infrastruktur belum memadai dan ekonomi biaya
tinggi masih terjadi, sulit bagi industri manufaktur Indonesia bersaing
dengan China.
"Yang bisa dilakukan adalah mengembangkan sektor
pertanian yang memang jadi keunggulan Indonesia. Pengembangan pertanian
harus dilakukan semua pihak,
terutama soal pupuk, fluktuasi harga, irigasi, dan rantai distribusi pemasaran," ujarnya.
Oleh
karena itu, anggota Komisi VI DPR, Perjuangan Sukur Nababan, mendesak
pemerintah agar menunda pelaksanaan Perjanjian Perdagangan Bebas
China-ASEAN (CAFTA). "Sebelum ada CAFTA saja, industri manufaktur sudah
terpuruk, apalagi kalau CAFTA diberlakukan," ujarnya.
Pemberlakuan
CAFTA, menurut Sukur, akan mengancam puluhan juta tenaga kerja yang
bekerja di industri manufaktur. Produk usaha mikro, kecil, dan menengah
pun akan terdesak produk-produk dari China dan negara-negara lain di
ASEAN.
Sukur berpendapat, dengan menunda CAFTA, Indonesia
berkesempatan meningkatkan daya saing produk manufakturnya. "Dengan
catatan, harus dilakukan pemantapan industri hulu, pemetaan komoditas
unggulan, perbaikan infrastruktur, dan menurunkan biaya bunga. Setelah
bisa bersaing, baru CAFTA diterapkan," ujarnya.
(FAJ)