Bahkan,
dua guru yang hingga kini masih mengajar itu sangat prihatin menonton
tayangan sejumlah stasiun televisi dan pemberitaan media massa yang
menunjukkan gambar atau foto muridnya di SMA Negeri 3 Semarang tahun
1981 itu diberi taring dan lumuran darah. Bahkan, dua guru itu sedih
karena foto muridnya itu diinjak-injak sambil diteriaki "maling".
Perasaan itulah yang disampaikan guru Kimia, Asminah (58), dan guru Matematika, Mawardi (57), kepada
Kompas,
sebelum kedatangan Wakil Presiden Boediono, yang mengajak Sri Mulyani
dan sejumlah menteri lainnya, saat berdialog di SMA Negeri 3 Semarang
di Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/2). Dalam kunjungan
kerja sehari itu, Boediono didampingi sejumlah menteri lain, seperti
Menteri Agama Suryadharma Ali dan Mendiknas Mohammad Nuh.
"Saya
sedih dan prihatin melihatnya. Tetapi, saya tak percaya, murid saya
akan melakukan hal itu," ujar Asminah. Sedangkan Mawardi mengatakan,
dirinya selalu berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan yang benar
agar masalah itu segera diselesaikan. "Saya terus bertanya, apa iya, murid saya seperti itu," katanya.
Di
mata kedua guru tersebut, Sri Mulyani adalah murid yang tergolong
cerdas, terutama dalam mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pasti. ?Dia
murid yang rajin dan pintar meski di sekolah ini banyak anak yang juga
pintar,? kata Asminah.
Menurut Mawardi, Sri Mulyani dan
saudaranya yang bersekolah di SMA Negeri 3 memang dikenal sebagai
anak-anak yang pintar."Karena bapak-ibunya dosen IKIP Semarang (kini
Universitas Negeri Semarang) yang mengajar mata kuliah kependidikan,"
ujar Mawardi yang pernah menjadi mahasiswa almarhum Prof Satmoko, ayah
Sri Mulyani.
Sebelumnya, menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 3
Semarang Hari Waluyo, Sri Mulyani merupakan siswi SMA Negeri 3 angkatan
1981. ?Dua tahun lalu waktu reuni, beliau hadir di sekolah ini,"ujar
Hari. SMA Negeri 3 Semarang sudah berdiri sejak 1 November 1877 pada
zaman penjajahan Belanda dan dipakai untuk mendidik murid-murid Belanda
setingkat SMA atau Hogere Burger
School.
Boediono puji Sri Mulyani
Di
tempat yang sama, saat berdialog dengan para siswa, Boediono memuji Sri
Mulyani sebagai orang yang hebat. "Saya bersama-sama dengan Ibu Sri
Mulyani yang dulu sekolahnya di SMA Negeri 3. Saya beri kesempatan Ibu
Sri Mulyani untuk menyampaikan sesuatu. Ibu Sri Mulyani ini orang yang
hebat," kata Boediono.
Sri Mulyani, yang kemudian berpidato,
mengaku tidak bisa memberikan penilaian terhadap dirinya, kecuali
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku atasannya, kalangan ekonomi,
dan dunia luar. Ia mengucapkan terima kasih kepada Boediono karena
diajak bernostalgia di sekolahnya dulu. "Saya berterima kasih ke
sekolah yang telah memberikan pembelajaran dan pengalaman pada masa
lalu," katanya.
Menurut Sri Mulyani, lebih enak jadi pelajar SMA
dulu daripada sekarang menjadi menteri karena didemo."Waktu jadi
pelajar, memang benar-benar masa yang paling indah. Bisa main basket,
karate, paduan suara, menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, naik
sepeda dari rumah ke sekolah, dan lain-lain," kata Sri Mulyani. Dia
mengaku, saat di sekolahnya itu, dia merasa menjadi muda lagi dan
seperti pelajar.
(Suhartono)
Kompas, Senin, 8 Februari 2010