Home arrow Indonesia File arrow Economics Issues arrow Guru-guru Sri Mulyani Pun Tidak Percaya
Guru-guru Sri Mulyani Pun Tidak Percaya Print E-mail
Senin, 08 Februari 2010

Dua guru SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah, yang pernah mengajar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tak percaya muridnya itu bersalah ketika menjadi Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan saat memutuskan dana talangan ( bail out) senilai Rp 6,7 triliun. Apalagi sampai menggunakannya untuk kepentingan sendiri.

Bahkan, dua guru yang hingga kini masih mengajar itu sangat prihatin menonton tayangan sejumlah stasiun televisi dan pemberitaan media massa yang menunjukkan gambar atau foto muridnya di SMA Negeri 3 Semarang tahun 1981 itu diberi taring dan lumuran darah. Bahkan, dua guru itu sedih karena foto muridnya itu diinjak-injak sambil diteriaki "maling".

Perasaan itulah yang disampaikan guru Kimia, Asminah (58), dan guru Matematika, Mawardi (57), kepada Kompas, sebelum kedatangan Wakil Presiden Boediono, yang mengajak Sri Mulyani dan sejumlah menteri lainnya, saat berdialog di SMA Negeri 3 Semarang di Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/2). Dalam kunjungan kerja sehari itu, Boediono didampingi sejumlah menteri lain, seperti Menteri Agama Suryadharma Ali dan Mendiknas Mohammad Nuh.

"Saya sedih dan prihatin melihatnya. Tetapi, saya tak percaya, murid saya akan melakukan hal itu," ujar Asminah. Sedangkan Mawardi mengatakan, dirinya selalu berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan yang benar agar masalah itu segera diselesaikan. "Saya terus bertanya, apa iya, murid saya seperti itu," katanya.

Di mata kedua guru tersebut, Sri Mulyani adalah murid yang tergolong cerdas, terutama dalam mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pasti. ?Dia murid yang rajin dan pintar meski di sekolah ini banyak anak yang juga pintar,? kata Asminah.

Menurut Mawardi, Sri Mulyani dan saudaranya yang bersekolah di SMA Negeri 3 memang dikenal sebagai anak-anak yang pintar."Karena bapak-ibunya dosen IKIP Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) yang mengajar mata kuliah kependidikan," ujar Mawardi yang pernah menjadi mahasiswa almarhum Prof Satmoko, ayah Sri Mulyani.

Sebelumnya, menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Semarang Hari Waluyo, Sri Mulyani merupakan siswi SMA Negeri 3 angkatan 1981. ?Dua tahun lalu waktu reuni, beliau hadir di sekolah ini,"ujar Hari. SMA Negeri 3 Semarang sudah berdiri sejak 1 November 1877 pada zaman penjajahan Belanda dan dipakai untuk mendidik murid-murid Belanda setingkat SMA atau Hogere Burger School.

Boediono puji Sri Mulyani

Di tempat yang sama, saat berdialog dengan para siswa, Boediono memuji Sri Mulyani sebagai orang yang hebat. "Saya bersama-sama dengan Ibu Sri Mulyani yang dulu sekolahnya di SMA Negeri 3. Saya beri kesempatan Ibu Sri Mulyani untuk menyampaikan sesuatu. Ibu Sri Mulyani ini orang yang hebat," kata Boediono.

Sri Mulyani, yang kemudian berpidato, mengaku tidak bisa memberikan penilaian terhadap dirinya, kecuali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku atasannya, kalangan ekonomi, dan dunia luar. Ia mengucapkan terima kasih kepada Boediono karena diajak bernostalgia di sekolahnya dulu. "Saya berterima kasih ke sekolah yang telah memberikan pembelajaran dan pengalaman pada masa lalu," katanya.

Menurut Sri Mulyani, lebih enak jadi pelajar SMA dulu daripada sekarang menjadi menteri karena didemo."Waktu jadi pelajar, memang benar-benar masa yang paling indah. Bisa main basket, karate, paduan suara, menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, naik sepeda dari rumah ke sekolah, dan lain-lain," kata Sri Mulyani. Dia mengaku, saat di sekolahnya itu, dia merasa menjadi muda lagi dan seperti pelajar. (Suhartono)

Kompas, Senin, 8 Februari 2010

 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >