Namun, publikasi data inflasi bulan
Januari oleh Badan Pusat Statistik beberapa waktu lalu menyiratkan
bahwa tekanan inflasi mulai kembali meningkat.
Bagaimana prospek inflasi untuk beberapa waktu mendatang? Bagaimana pula dampaknya terhadap arah kebijakan moneter bank sentral?
Sepanjang
Januari terjadi inflasi sebesar 0,84 persen. Besaran inflasi itu lebih
tinggi dari estimasi banyak pihak, yang memperkirakan inflasi akan
berada di kisaran 0,50 persen.
Sebenarnya, pada kondisi normal
(bukan krisis atau pascakrisis), tekanan inflasi di akhir atau awal
tahun memang cenderung meningkat.
Pada 2005-2008, inflasi yang
terjadi pada Januari selalu berada di atas 1 persen. Pada 2005 sebesar
1,43 persen, pada 2006 sebesar 1,36 persen, tahun 2007 sebesar 1,04
persen, dan tahun 2008 sebesar 1,7 persen.
Beras biasanya jadi
komoditas utama yang memengaruhi tekanan inflasi pada bulan Januari.
Pada Januari 2010, beras memberi andil inflasi 0,35 persen.
Pada
Januari 2009, beras masih memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen
meski secara umum terjadi deflasi pada waktu itu. Seterusnya, untuk
2005-2008, beras umumnya selalu menjadi komoditas yang memberi andil
terbesar terhadap total inflasi pada Januari.
Selain di
Indonesia, peningkatan tekanan inflasi juga mulai dialami oleh
negara-negara lain. Di beberapa negara, naiknya laju inflasi bahkan
mulai terasa sejak pertengahan 2009 (Gambar 1).
Apabila pada
periode krisis yang lalu beberapa negara mengalami fase deflasi, saat
ini secara umum negara-negara itu sudah kembali mengalami inflasi,
termasuk Amerika Serikat, China, zona Uni Eropa, dan beberapa
negara-negara tetangga.
Inflasi tahunan di AS pada Desember 2009
bahkan mencapai 2,82 persen (tren inflasi jangka panjang di AS
kira-kira berada di 2-3 persen).
Memang masih ada beberapa negara
yang saat ini berada dalam periode deflasi. Jepang, misalnya, hingga
Desember 2009 masih mengalami deflasi yang cukup dalam sebesar 1,68
persen (tahunan). Singapura juga masih mengalami deflasi sampai
Desember 2009.
Sejumlah indikator menunjukkan bahwa aktivitas
ekonomi Indonesia berpotensi untuk terus meningkat dalam beberapa waktu
mendatang.
Peningkatan aktivitas ekonomi itu sangat mungkin
mendorong naiknya daya beli masyarakat. Naiknya daya beli masyarakat
memberi insentif bagi pengusaha untuk menaikkan harga jual produk, yang
pada akhirnya berdampak pada naiknya tekanan inflasi.
Oleh karena
itu, dampak lemahnya sisi permintaan yang mengurangi tekanan inflasi
sepanjang 2009 sepertinya sulit untuk berlanjut pada tahun ini.
Inflasi
kemudian berpotensi kembali ke level yang selaras dengan tren jangka
panjangnya. Data historis menunjukkan bahwa tren inflasi dalam kondisi
normal di Indonesia berada di kisaran 6-6,5 persen.
Data historis juga menunjukkan bahwa
shock
kebijakan (terutama kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi) yang
diambil pemerintah pasti merusak tren itu. Pada 2005 dan 2008
pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi yang kemudian membuat laju
inflasi melambung tinggi.
Untuk 2010, potensi terjadinya kenaikan
harga BBM bersubsidi sepertinya masih cukup kecil. Harga minyak dunia
memang diperkirakan naik sejalan dengan naiknya permintaan.
Namun,
banyak pihak meyakini bahwa suplai minyak dunia masih dapat memenuhi
kenaikan permintaan yang umumnya berasal dari negara-negara yang masih
mengalami pemulihan aktivitas ekonomi.
Sampai awal Februari,
Energy Information Administration (EIA) di AS memprediksi harga minyak
pada akhir 2010 akan mencapai 82 dollar AS per barrel dengan rata-rata
harga sepanjang tahun mencapai 79,8 dollar AS per barrel.
Beberapa
lembaga lain yang lebih pesimistis memperkirakan harga minyak akan
mencapai 90 dollar AS per barrel. Dengan skenario kenaikan harga minyak
seperti di atas, opsi kenaikan BBM sepertinya masih dapat dihindari
pemerintah pada 2010.
Dengan skenario itu pula, Danareksa
Research Institute memperkirakan pola laju inflasi pada 2010 akan
bergerak seperti ditunjukkan pada Gambar 2 (warna merah menunjukkan
perkiraan).
Tekanan inflasi diperkirakan masih relatif tinggi
pada Februari dan akan turun pada Maret dan April sejalan dengan
dimulainya masa panen raya.
Tekanan inflasi kemudian akan kembali
meningkat dan mencapai puncaknya antara Agustus dan September 2010
(bersamaan dengan bulan Ramadhan). Secara keseluruhan, Danareksa
Research Institute memperkirakan laju inflasi tahunan pada 2010 akan
mencapai 6,01 persen.
Fase pemulihan
Pada
periode krisis lalu, otoritas moneter di banyak negara umumnya
menerapkan kebijakan moneter longgar. The Fed di AS, misalnya,
menjalankan kebijakan tersebut dengan menurunkan suku bunga acuan
hingga mendekati 0 persen.
Selain itu, The Fed juga membeli obligasi Pemerintah AS dalam jumlah besar (yang berarti menyuntikkan uang ke sistem keuangan).
Dampaknya,
monetary base (uang primer atau M0) dan suplai uang (M1) melambung tinggi sejak pertengahan 2008.
Fase
pemulihan yang masih berlangsung dan perlu dijaga membuat bank-bank
sentral di dunia secara umum belum mengubah arah kebijakan moneter
secara signifikan meski pada beberapa kasus suku bunga efektif sudah
negatif karena laju inflasinya sudah lebih tinggi dari suku bunga acuan.
Penurunan
angka pertumbuhan suplai uang yang terjadi di beberapa negara, seperti
yang terjadi di AS, sepertinya lebih disebabkan oleh faktor
base effect dan bukan perubahan arah kebijakan moneter bank sentral.
Bagaimana
dengan prospek kebijakan moneter di Indonesia? Agak sulit dijawab
karena rangkaian kebijakan Bank Indonesia (BI) seperti bertolak
belakang beberapa waktu lalu.
BI memang menurunkan suku bunga acuan sampai 6,5 persen (tampak melonggarkan kebijakan moneter).
Namun,
pada saat yang sama BI juga membatasi pasokan uangnya ke sistem dengan
menyerap banyak dana perbankan dengan penerbitan instrumen Sertifikat
Bank Indonesia (memperketat kebijakan moneter).
Beberapa
indikator kemudian menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang
dicanangkan BI sebenarnya belum berhasil tercapai. Indikator
tersebut misalnya pertumbuhan negatif uang primer (M0), suku bunga
pinjaman yang sulit turun, dan pertumbuhan kredit yang terus menurun.
Tekanan
inflasi yang kembali meningkat pada tahun 2010 tentu membatasi ruang BI
untuk mempertahankan suku bunga acuan di level yang rendah. Sampai dengan semester I-2010, laju inflasi diperkirakan masih akan berada di kisaran 5 persen.
Oleh
karena itu, sampai dengan pertengahan tahun 2010, BI kemungkinan besar
masih dapat mempertahankan suku bunga acuan pada level yang sekarang. Tentu
perlakuan terhadap suku bunga acuan perlu dibarengi dengan pengelolaan
yang sesuai atas instrumen moneter pendukung, misalnya penerbitan
Sertifikat Bank Indonesia.
Hal ini penting agar kebijakan moneter yang digariskan BI dapat benar-benar berdampak seperti yang diharapkan.
Dengan pengelolaan yang tepat, tingkat likuiditas di
sistem keuangan akan tetap
terjaga. Kondisi ini akan
mempermudah perbankan
menjalankan fungsi intermediasinya.
Dengan
dukungan yang cukup dari perbankan, pemulihan dan peningkatan aktivitas
ekonomi yang sedang berlangsung tentu akan lebih optimal.
Bramanian Surendro Danareksa Research Institute; Ekonom