Kegiatan penelitian dan pengajaran
yang berkualitas tidak bisa diperoleh jika tidak didukung dosen dan
mahasiswa berkualitas. Apalagi jika mahasiswa kerap ditinggal dosen
yang lebih sering mengajar di tempat lain. Itu yang mendasari langkah
Gumilar menata dosen, tahun 2008. Salah satu contoh, dosen inti
penelitian diberi renumerasi Rp 15 juta per bulan. Dia harus lebih
banyak mencurahkan waktu untuk penelitian.
Apakah program itu efektif?
Efektif.
Sekarang dosen lebih betah di kampus dan fokus pada penelitian dan
pengajaran. Dengan penataan ini, dosen bisa meningkatkan kualitas
mengajar dan meneliti tanpa harus memikirkan kesejahteraan. Sebelum
naik, gaji dosen kira-kira Rp 2 juta. Kami ingin mengasah
?berlian-berlian? dalam kegiatan penelitian dan pengajaran dengan karya
yang dipublikasikan di jurnal internasional atau bahkan Nobel, menjadi
pemimpin sekaligus entrepreneur.
Sudah terlihat hasilnya?
Melihat
kondisi UI saat ini, ?berlian? bidang penelitian masih butuh 10-15
tahun. ?Berlian? di bidang pengajaran perlu 5-10 tahun. ?Berlian? itu
baru bisa diperoleh jika didukung SDM dan dukungan dana yang tidak
sedikit. Untuk memacu itu, kami mendorong munculnya guru-guru besar
yang kini baru 250 orang. Idealnya, 1.000 full professor atau paling
tidak 500 guru besar.
Bagaimana cara menemukan dan mengasah SDM "berlian"?
Diawali
dengan selektivitas. Kami tidak mau mencetak sarjana yang berpikir
sempit yang merugikan bangsa. Kami ingin melahirkan generasi muda yang
sadar ia menjadi bagian masyarakat dan punya tanggung jawab pada
peradaban. Ini perlu pendekatan holistik. Kami mulai dengan peningkatan
kualitas dosen, membangun infrastruktur yang baik, menumbuhkembangkan
kreativitas, kebebasan berpikir, namun bertanggung jawab untuk
mengemukakan pendapat dan berkontribusi pada upaya pemecahan persoalan
bersama. Yang penting, bagaimana memanfaatkan apa yang kita miliki
secara optimal karena kalau menunggu sampai segala sesuatunya sempurna,
kapan itu bisa dilakukan.
Bagaimana proses seleksi masuk UI?
UI
membuka 11 jalur masuk untuk pertahankan kualitas ?bibit?. Kami
mengundang sekitar 800 lulusan terbaik SMA seluruh Indonesia ikut
seleksi masuk. Kalau ikut seleksi biasa atau SIMAK UI belum tentu lulus
karena kualitas pendidikan SMA dari Sabang sampai Merauke kan berbeda.
Tes SIMAK itu tes standar. Yang lulus mayoritas siswa di Jabodetabek
atau kota-kota besar lain karena mereka berkesempatan bimbingan tes dan
dekat fasilitas lain. Padahal banyak anak daerah di pelosok yang lebih
berkualitas. UI juga undang para pemenang olimpiade sains untuk masuk
UI tanpa tes.
Mahasiswa ideal seperti apa yang diharapkan?
Mahasiswa
yang seimbang antara orientasi scientific values dengan arts dan
morality. Jadi secara ilmu pengetahuan baik, seni dan moralitasnya juga
baik. Kami ingin menciptakan generasi baru yang mampu berpikir
holistik, tidak parsial, dan seimbang dengan orientasi pada keilmuan.
Selain perbaikan kualitas SDM, apa rencana UI ke depan?
Kami
ingin membuka pusat penelitian untuk perkeretaapian lengkap dengan
tremway di dalam kampus bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan.
Kami tahun ini akan membangun gedung pusat kesenian dan kebudayaan
lengkap dengan gedung konser dan museum seni. Gedung ini penting untuk
menjaga keseimbangan otak kiri dan kanan supaya mahasiswa tidak hanya
berkutat dengan sains dan teknologi, tetapi juga seni dan budaya. UI
akan membangun pusat penelitian terintegrasi dan rumah sakit.
Apakah UI menjadi mahal?
Sebaliknya,
justru sekolah termurah di Indonesia karena kualitas UI tidak kalah
dengan perguruan tinggi di Malaysia, Filipina, Thailand. Dengan
kualitas seperti itu, uang kuliahnya hanya Rp 100 ribu hingga Rp 7,5
juta berdasar kemampuan. Beasiswa hingga sekitar Rp 36 miliar untuk
strata 1 reguler. Tidak ada alasan takut masuk UI karena biaya mahal.
Dengan banyaknya gedung di UI, apakah tidak mengganggu konsep
UI Go Green?
Tentu
tidak karena gedung-gedung yang dibangun termasuk "gedung hijau" yang
hemat energi. Kami menyadari masalah serius seperti ancaman pandemi,
kekurangan energi, kekurangan makanan, dan perubahan iklim. Untuk itu,
kami mulai peduli lingkungan di dalam kampus sendiri seperti naik
sepeda atau membangun"gedung hijau" seperti perpustakaan yang sedang
dibangun. Di satu sisi gedung-gedung itu merepresentasikan perhatian
pada perkembangan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, kami ingin
merepresentasikan perspektif yang menunjukkan keseimbangan antara
tercapainya kemajuan dari peradaban dengan lahirnya keadilan,
demokrasi, dan kelestarian lingkungan.
Sumber anggaran UI?
Tentu
kami harapkan dukungan pemerintah. Harus ada perguruan tinggi di negeri
ini, satu saja dulu, yang masuk peringkat dunia untuk menumbuhkan rasa
bangga dan percaya diri bangsa. Kami mengundang filantropi kalangan
industri. Kami ingin hasil penelitian dipatenkan dan dihubungkan dengan
industri. Selama ini kami sering dibantu industri terutama untuk
pemberian beasiswa.