Manisnya
buah yang dipetik dari industri media massa di negeri ini memang dapat
dirasakan. Selepas dari penguasaan rezim lama yang memasung hampir
setiap aspek politik ataupun ekonomi industri media massa, indikasi
positif semakin berperannya media massa di berbagai level persoalan
terjadi.
Pemandangan yang amat mencolok terlihat, misalnya, apa
yang terjadi pada tataran lingkungan makro media, khususnya terkait
dengan pola hubungan antara penguasa negara dan media. Jika pada era
sebelumnya yang terjadi adalah pola hubungan yang bersifat vertikal,
media massa terkungkung dalam dominasi penguasaan pemerintah, kini
justru cenderung berpola terbalik.
Ekspresi kebebasan berpendapat
yang diraih, sekalipun akhir-akhir ini dihantui pula oleh ancaman hukum
yang berlandaskan pada pasal-pasal pencemaran nama baik, sebagaimana
yang terkandung dalam KUHP dan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik (ITE), terbukti membuat sosok media tampil
lebih ?perkasa? dibandingkan dengan subyek pemberitaannya.
Kajian
terbaru yang dilakukan Litbang Kompas terhadap enam surat kabar
nasional, misalnya, menunjukkan bahwa selama tiga bulan jalannya
pemerintahan Presiden Yudhoyono, sorotan media tersebut tampak ?keras?
kepada pemerintah, lebih banyak bernada negatif dibandingkan dengan
yang positif. Di sisi lain, hasil survei opini publik yang rutin
dilakukan harian ini pun menunjukkan, masih terjaganya kebebasan pers
di negeri ini dirasakan oleh lebih dari dua pertiga bagian responden
yang mengindikasikan adanya keleluasaan media dan minimnya campur
tangan penguasa.
Dominasi media
Kecenderungan
terbaliknya pola hubungan antara media massa dan penguasa sebenarnya
tidak hanya berlangsung pada era pemerintahan Presiden Yudhoyono. Pada
era pemerintahan Presiden BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, ataupun
Presiden Megawati Soekarnoputri, ?kejayaan? media massa tampak nyata.
Dalam hal ini, lebih dari satu dasawarsa berlalu, media massa telah
mengukuhkan dirinya menjadi satu entitas politik yang dominan di negeri
ini.
Jika pada level makro manisnya buah industri terasakan,
demikian juga di level organisasi media. Paling tidak, kalkulasi
ekonomi yang ditunjukkan adanya kecenderungan bertumbuhnya kapital yang
tertanam dalam industri media massa menunjukkan kegairahan yang terjadi
di industri ini. Di satu sisi, memang terdapat sebagian kekhawatiran
menurunnya penetrasi media, terutama media cetak, di negeri ini.
Namun,
di sisi lain, perolehan iklan sepanjang satu dasawarsa terakhir,
misalnya, meningkat signifikan. Survei Nielsen Media Indonesia terhadap
103 koran, 165 majalah dan tabloid, dan 24 stasiun TV nasional ataupun
lokal menunjukkan bahwa belanja iklan semua media massa pada 2009
diperkirakan mencapai
Rp 48,5 triliun atau meningkat 16
persen dibandingkan 2008. Menariknya, di tengah ancaman guncangan
krisis global dua tahun terakhir, justru industri media massa menuai
iklan yang diraup secara serentak dari berbagai ajang kontestasi
politik lokal (pilkada) hingga nasional (pemilu presiden dan
legislatif) dua tahun terakhir ini.
Tidak kalah menarik, di mata
publik, apresiasi positif terus berlanjut dalam menilai fungsi dan
peran media massa. Beberapa hasil pengumpulan opini publik yang
dilakukan Kompas menyimpulkan, sejauh ini media dinilai telah memadai
dalam menjalankan fungsi penyebaran informasi ataupun hiburan bagi
masyarakat. Pada survei terakhir, penilaian sebagian besar masyarakat
menganggap media massa telah berupaya menjalankan dengan baik teknis
jurnalistik ataupun peran yang diembannya. Sekalipun masih terdapat
keluhan mengenai unsur-unsur kekerasan dan sensasionalitas yang
terkandung dalam informasi yang tersaji, penyebaran informasi yang
mengarah pada fakta juga dirasakan (lihat
Grafik).
Terhadap
peran sosial media massa selama ini melalui pemberitaannya pun menuai
apresiasi positif. Upaya media massa dalam mendorong terjadinya
penegakan hukum di negeri ini dinilai memadai. Demikian pula upaya
mendorong pemerintahan yang bersih, mendorong kerukunan dalam
masyarakat, bahkan ikut mendorong terjadinya pemulihan ekonomi,
disikapi secara positif oleh sebagian besar publik. Berdasarkan hasil
pengumpulan opini publik ini, tidak sampai separuh bagian responden
yang mengeluhkan berbagai peran yang dijalankan media.
Adaptasi industri
Meningkatnya
pengaruh ekonomi ataupun politik media massa, baik di tataran makro,
organisasi media, maupun isi pemberitaan, semakin menunjukkan betapa
kuatnya peran industri media massa di negeri ini. Namun, tantangan
ataupun potensi persoalan yang dihadapi media massa tidak berarti
musnah. Di tengah "kejayaan" media, justru persoalan lain menghantui
kiprah media itu sendiri.
Pencermatan terhadap berbagai format
industri media massa yang selama ini eksis di negeri ini menunjukkan
betapa kuatnya kini pergulatan media massa dalam menghadapi tekanan
internal ataupun eksternal media. Tekanan eksternal media tentu saja
tidak lagi disamakan dengan intervensi politik penguasa, sebagaimana
yang terjadi pada masa lalu, tetapi lebih
berujud pada bentuk-bentuk intervensi teknologi ataupun ekonomi yang muncul dari berbagai lini.
Perubahan
teknologi yang sangat masif terjadi satu dasawarsa terakhir, misalnya,
memaksa media massa di negeri ini mengubah segenap format industrinya,
baik di tataran isi, kemasan, maupun organisasi media. Sebagai
gambaran, tak ada satu media cetak nasional pun yang tidak mengubah
bentuk dan kemasannya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tidak
sedikit pula yang berkali-kali mengubah bentuk dan kemasannya dengan
tujuan pencarian format yang sesuai dengan keinginan konsumen. Pada
level organisasi media, pola-pola adaptasi pun terjadi. Konvergensi
media yang melanggengkan pola integrasi secara horizontal kini menjadi
pilihan, baik dalam industri pertelevisian maupun surat kabar.
Tujuannya tiada lain perluasan penguasaan pasar dan efisiensi.
Geliat
internal media dalam beradaptasi dengan tekanan eksternal semacam ini
sangat rentan memunculkan anggapan bahwa media lebih sebagai sosok
ekonomi ketimbang fungsi ataupun peran ideal yang diusungnya. Bagi
media massa, sudah barang tentu anggapan semacam itu tidak boleh
terwujud. Namun, dalam penilaian publik, kesan semacam itu kini
terekspresikan. Sebagaimana yang tergambarkan dalam survei ini, baik
para penonton televisi maupun pembaca surat kabar menilai media massa
saat ini cenderung berorientasi pada
kepentingan komersial dibandingkan dengan kepentingan masyarakat.