Home arrow Economics arrow Pengemplang Pajak Menggoyang UBS Swiss
Pengemplang Pajak Menggoyang UBS Swiss Print E-mail
Jumat, 12 Februari 2010

Sebagai bank terbesar di Swiss, UBS terancam kolaps karena kasus pajak para nasabahnya di Amerika. Situasi akan semakin buruk manakala Jerman dan Prancis menggunakan data curian untuk memburu pengemplang pajak yang memarkir dana di bank itu. Apa solusi para bankir? ; Memburu Pengemplang Cara Jerman

Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung selama lima hari di Davos, Swiss, rupanya jadi tempat "curhat". Setidaknya hal itu dilakukan Presiden Doris Leuthard pada hari terakhir pertemuan yang membahas situasi mutakhir perekonomian dunia ini, Ahad silam. Ia mengeluhkan sekaligus menegaskan sikap pemerintahnya menghadapi kasus perbankan dengan Jerman.

Doris yang merangkap sebagai Menteri Perekonomian Swiss memperingatkan soal penggunaan data ilegal nasabah perbankan. Terutama untuk menjerat para pengemplang pajak yang membenamkan duitnya di Swiss. "Secara umum bisa dibilang, kami yakin bahwa para pemimpin negara menghadapi kesulitan untuk memutuskan penggunaan data ilegal itu," katanya, seperti dikutip AFP.

Pernyataan itu muncul setelah beredar kabar bahwa Pemerintah Jerman sedang gencar memburu para penggelap pajak yang menyimpan duit di perbankan Swiss. Masalah mencuat karena otoritas pajak Jerman dituding berusaha memperoleh secara ilegal data para nasabah. Data ihwal 1.500 nasabah bank di Swiss itu konon ditawarkan seorang "pembocor" dengan imbalan 2,5 juta euro atau setara dengan US$ 3,5 juta.

"Kalau benar, itu berarti bekerja sama dengan penjahat dan jelas-jelas melawan hukum," katanya lagi. Namun Doris juga buru-buru mengoreksi ucapannya bahwa kabar itu baru spekulasi dan bukan informasi resmi. Untuk itu, Pemerintah Swiss harus menganalisis dulu masalah ini dan mendapatkan konfirmasi resmi dari Pemerintah Jerman.

Pemerintah Jerman sendiri dikabarkan tengah mempertimbangkan tawaran sang pembocor. Maklum, kerugian yang dipikul pemerintah akibat penggelapan pajak itu sangat besar: 200 juta euro. Hal ini tersirat pada ucapan Kanselir Angela Merkel ketika menanggapi isu itu. "Tujuan kami jelas, bagaimanapun harus memperoleh data itu. Setiap orang yang punya nalar tahu bahwa penggelapan pajak harus diungkap," ujarnya, seperti dikutip The Washington Post.

Namun pernyataan Merkel kemudian diperhalus juru bicara Kementerian Keuangan, Michael Fuchs. Ia menegaskan, Pemerintah Jerman tidak berniat membayar sepeser pun untuk memperoleh data itu. Walau demikian, ini yang dikhawatirkan Swiss, pembelian data serupa pernah dilakoni Jerman ketika berusaha menjerat para pengemplang pajak yang menyimpan dana di LGT Bank, Lichtenstein (lihat: Memburu Pengemplang Cara Jerman).

Tak pelak lagi, kasus pembocoran data nasabah itu menambah masalah yang sedang merundung perbankan di "negeri arloji" itu. Terutama masalah berkepanjangan yang dialami bank terbesar di sana, UBS, dengan otoritas pajak Amerika Serikat alias Internal Revenue Service (IRS).

Genap setahun yang lalu, melalui Departeman Kehakiman, IRS menuntut agar UBS membuka data rekening sejumlah besar nasabah yang berasal dari Amerika. Ketika itu, otoritas pajak Amerika itu tengah mengincar sekitar 52.000 warga kaya yang ditengarai berusaha mengemplang pajak dan membenamkan dana di UBS. Tuntutan ini muncul hanya beberapa jam setelah otoritas Swiss dan Amerika berhasil menyelesaikan sengketa sejenis yang melibatkan 255 nasabah UBS.

Sengketa itu berawal dari dugaan penggelapan pajak oleh 255 orang kaya Amerika yang membenamkan dana di UBS. Sementara kasus ini masih bergulir di pengadilan, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menuntut UBS menyerahkan data para nasabah curang tersebut. UBS menolak karena menurut undang-undang perbankan negeri itu, data tidak bisa diberikan sebelum pengadilan memvonis mereka bersalah.

Kasus itu terus bergulir selama hampir satu tahun. Akhirnya otoritas Swiss dan Amerika mengambil jalan tengah: menyelesaikan perkara di luar pengadilan. Solusinya, UBS berkewajiban membayar kerugian plus denda pajak yang dibebankan kepada 255 nasabah Amerikanya itu. Nilainya sekitar US$ 780 juta. Di lain pihak, bank itu terlepas dari tuntutan untuk membuka data rekening nasabahnya.

Kasus IRS versus UBS itu memang menyita perhatian berbagai pihak. Ada yang menganggapnya sebagai preseden yang diperkirakan bakal diikuti bank dan lembaga keuangan lainnya di Swiss bila diburu kasus pajak nasabah dari Amerika. "Ini merupakan bagian dari langkah umum ke arah transparansi yang lebih besar," ujar Stephanie Jarret dari Firma Hukum Baker & McKenzie, yang bermarkas di Chicago.

Selain itu, keberhasilan otoritas pajak Amerika menekan UBS kemungkinan juga bakal diikuti banyak pihak. ''Sukses yang dicapai otoritas pajak Amerika akan mendorong otoritas pajak negara-negara lain menempuh strategi serupa,'' kata seorang pakar hukum pajak di Merril Lynch, seperti dikutip International Herald Tribune.

Prancis dan Jerman adalah dua negara Eropa yang memberi isyarat kuat bakal mengikuti jejak Amerika. Menteri Keuangan Jerman, Peer Steinbruek, misalnya, pada waktu itu berkali-kali menuding Swiss sebagai negeri tempat menghilangkan jejak dana-dana ''antipajak'' di negeri asal. Dan, itulah yang amat ditakutkan UBS.

Selama ini, Swiss memang menjadi "surga" pelarian uang terbesar di dunia. Bank-bank di negeri itu diperkirakan mengelola sepertiga dari US$ 7 trilyun total dana orang-orang kaya sedunia. Industri perbankan ini sedemikian maju berkat prinsip kerahasiaan dan perlindungan terhadap nasabah yang dipegang teguh selama ini. "Tapi, bagi Swiss, kasus ini merupakan bencana besar di sektor industri perbankan yang jadi andalan itu,'' ujar pengacara di Jenewa, Charles Poncet, ketika itu seperti dikutip harian Neue Zuercher Zeitung.

Tuntutan dan masalah yang dihadapi UBS dengan otoritas perpajakan Amerika itu hingga kini masih belum kunjung terselesaikan. Padahal, Agustus tahun lalu, Pemerintah Swiss bersama UBS dan IRS menyepakati beberapa langkah penyelesaian. Salah satunya, dari 52.000 nasabah yang diminta, UBS hanya akan menyerahkan data sekitar 4.450 nasabah asal Amerika yang terkait dengan kasus pengemplangan pajak. Untuk tahap pertama, pada November silam UBS menyatakan siap menyerahkan data 500 nasabah bermasalah itu.

Dalam kaitan ini, UBS memang harus menelan buah simalakama. Bila tetap bertahan merahasiakan data nasabah, bank itu bisa digugat melanggar hukum perpajakan Amerika. Sebaliknya, bila membuka rahasia nasabah, UBS bisa dituntut melanggar hukum perbankan Swiss. "Tapi semua pihak sepakat untuk menyelesaikan kendala hukum ini di luar pengadilan," kata Stuart Gibson, pengacara Departemen Kehakiman Amerika Serikat, pada waktu itu seperti dikutip BBC News.

Namun masalah yang membelit UBS dan IRS itu lagi-lagi mengemuka, seperti mementahkan kembali kesepakatan yang telah dicapai. Pasalnya, pada akhir pekan lalu, Pengadilan Federal Swiss mengeluarkan keputusan mengabulkan tuntutan otoritas pasar modal Swiss, FINMA. Menurut hakim, kesepakatan bersama otoritas pajak Amerika dan Pemerintah Swiss pada Agustus itu sama sekali tidak bisa dibenarkan secara hukum.

FINMA memang melayangkan gugatan atas keputusan Pemerintah Swiss dalam menyelesaikan kasus UBS versus IRS itu. Langkah kompromi yang dicapai itu dikhawatirkan membuat goyah komunitas perbankan Swiss. Lagi pula, dari kesepakatan tersebut, tak ada jaminan dan payung hukum yang dapat melindungi bank mana saja yang bisa dan tidak bisa memberikan data nasabahnya kepada pihak lain.

Kali ini, Pemerintah Swiss-lah yang harus menelan buah simalakama. Kalau melanjutkan kesepakatan itu, berarti pemerintah Bern melanggar keputusan pengadilan. Sebaliknya, kalau menghentikan kesepakatan sesuai dengan keputusan pengadilan, berarti harus melawan hukum Amerika dan seluruh operasi UBS di Amerika terancam tutup. "Tapi pemerintah akan membicarakan situasi ini lagi dengan otoritas Amerika," ujar Menteri Kehakiman Swiss, Eveline Widmer-Schlumpf.

Sementara itu, otoritas pajak Amerika tampaknya tak hendak menyurutkan langkah yang telah disepakati. Menurut lembaga itu, pemerintah kedua negara benar-benar sepakat agar UBS memberikan informasi tentang para pemegang rekening itu. "Kami berharap, Pemerintah Swiss konsisten dan menghargai batasan kesepakatan yang telah dibuat," tulis IRS dalam siaran persnya.

Kemelut ini memang belum menemui jalan pemecahan. Upaya pemerintah meminta parlemen mengesahkan kesepakatan pada Agustus itu pun belum berbuah. Menurut Eveline, bila masalah sensitif dengan Amerika ini berlarut-larut, UBS kemungkinan bisa kolaps. "Masalah UBS ini rumit sekali. Bukan saja karena bank ini bisa dijerat dengan hukum, UBS juga bisa mengancam seluruh aktivitas perbankan. Lebih jauh lagi, perekonomian dan pasar tenaga kerja Swiss bakal terguncang bila izin operasi UBS di Amerika Serikat dicabut," katanya, seperti dikutip AFP.

Dengan beragam masalah yang muncul, UBS dan Pemerintah Swiss seperti mendapat pukulan bertubi-tubi. Apalagi berkaitan dengan langkah yang tampaknya akan ditempuh Jerman dalam memburu data pengemplang pajak di negeri itu. Malah Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, OECD, seperti memberi restu kepada pemerintah Bern untuk melangkah. Menurut lembaga itu, penggunaan data curian dari bank dapat dibenarkan dalam penyelidikan para pengemplang pajak.

Selain itu, sudah ada presedennya untuk kasus penggunaan data curian. Pada 2008, otoritas pajak Prancis dan Jerman berhasil melacak sejumlah dana yang diparkir para pengemplang pajak di perbankan Lichtenstein. Dasarnya, ya itu tadi, data ilegal alias curian yang diberikan para pembocor data bank. "Tidak perlu ada kompromi dengan para wajib pajak yang tidak menaati kewajiban mereka," kata Kepala Divisi Perpajakan OECD, Jeffrey Owens, seperti dikutip Reuters.

Di Swiss sendiri, perbankan swasta selama ini berhasil melobi pemerintah agar melarang penggunaan data curian dalam negosiasi perjanjian pajak dengan negara-negara lain. Namun lobi itu tampaknya bakal membentur tembok, mengingat banyak negara sedang berupaya mengatasi pembengkakan defisit pasca-krisis global dengan menggenjot pemasukan pajak.

Erwin Y. Salim

Memburu Pengemplang Cara Jerman

Terkisah, Klaus Zumwinkel, Direktur Perusahaan Pos Jerman, yang dikenal sebagai sosok yang bersih. Klaus dikesankan sebagai pemimpin yang tidak terlalu mementingkan kekayaan, melainkan lebih mengutamakan keberhasilan memimpin perusahaan. Ia punya relasi luas di kalangan politik, sekaligus amat memperhatikan nasib para bawahannya.

Tapi citra "bersih dan jujur" itu pupus dalam sekejap ketika petugas kejaksaan menggerebek rumah sang manajer. Aparat hukum itu menuding Klaus terlibat skandal penggelapan pajak dan pelarian dana pribadi ke Bank LGT di Lichtenstein. Bahkan, bersama dia, pada Februari 2008 itu, Kejaksaan Jerman menggeledah rumah ratusan tokoh dan orang kaya lainnya dalam kasus serupa. Menurut catatan harian Deutsche Welle, akibat ulah para pengemplang pajak itu, pemerintah dirugikan sekitar 3,4 milyar euro atau sekitar US$ 5 milyar.

Yang menarik adalah cara tim penyelidik kejaksaan Jerman mendapatkan bukti ihwal kecurangan para tokoh dan orang kaya tersebut. Dikabarkan, pada 2006, dinas intelijen Jerman kedatangan seseorang yang menawarkan DVD berisi data Bank LGT. Di situ tertera daftar nama nasabah, berikut laporan rekening bank dan korespondensi dengan para nasabah warga Jerman.

Dari pertemuan rahasia itu, dinas intelijen Departemen Keuangan dan kejaksaan Jerman sepakat bahwa informasi itu sangat berharga. Ketiga lembaga itu pun memutuskan bersedia membeli DVD tersebut seharga US$ 7 juta. Dana ini disisihkan dari anggaran dinas intelijen. Belakangan dicurigai, DVD itu kemungkinan besar berisi data curian.

Walau demikian, pihak kejaksaan tidak peduli. Menurut para penegak hukum di sana, yang penting data itu benar dan dapat digunakan di pengadilan. Malah ada yang menyebutnya sebagai investasi yang baik. Sebab, berkat DVD itu, Pemerintah Jerman bisa memperoleh kembali milyaran euro pajak yang digelapkan.

Langkah Jerman itu sempat membuat berang kepala negara Lichtenstein pada saat itu. Pangeran Alois menuding Pemerintah Bern memperdagangkan barang curian. Ia juga mengancam akan menempuh jalur hukum untuk melindungi warga dan nasabah yang menyimpan uang di Lichtenstein.

Namun, gertakan sang pangeran justru menuai kecaman. OECD pada waktu itu malah mengkritik keras Pemerintah Lichtenstein yang dinilai melindungi para pengemplang pajak. Lichtenstein sendiri, seperti Swiss, menjadi surga bagi para pemilik uang haram dan penggelap pajak untuk menyimpan dana mereka. Keberhasilan dengan cara serupa dilakukan Pemerintah Prancis untuk menjerat pengemplang pajak yang membenamkan dana di bank swasta yang beroperasi di Swiss.




- Swiss menjadi surga bagi pemilik uang; sepertiga dari US$ 7 trilyun total dana orang-orang kaya sedunia disimpan di bank di Swiss.

- Pemerintah Jerman rugi 200 juta euro akibat ulah pengemplang pajak.

- Seorang "pembocor" menawarkan data 1.500 nasabah UBS dengan imbalan 2,5 juta euro atau setara dengan US$ 3,5 juta.

 

Comments
Add New Search
Christian Shoes     |119.82.24.xxx |2010-07-10 08:52:49
Christian Louboutin is not only a style statement but also a comfort enhancer. Even after
wearing Christian Louboutin Pumps for an entire day you will want to continue to wear it. The five inch
heel will allow your legs to look far more slender and feminine then in
any other pair of shoes. Christian Louboutin Boots will also give you the added inches to tower over the others. Just Christian Louboutin Sandals to help you step out into the world stylishly and with your head held
high ready for the big things to happen.
The versatile stylealso makes
a great small Coach handbags . The unique side pockets are perfect for your lipstick, keys or change.
With all of these fabulous Coach Wristlet to choose from, you are sure to find that perfect Coach Hamptons that will bring out the style in you or better yet enhance the style that
you carry Coach Madison with you day by day.
Women's
uggproduct  - uggproduct     |59.58.151.xxx |2010-09-07 07:52:54
So many girls choose to wear UGG Classic Short Ugg boots to pass the time, except summer. And UGG Ultra Short with short ugg boots, girls are not as high can be more sexy and perfectly
matched. Short ugg boots can not only reflect the sense of
visual lightness of fashion, but can also make your legs thinner.

She was a lovely lovely girl, very liked to study the problems and take
risks. In my eyes, was a versatile girl. The most important was UGG Classic Mini that they both loved. So I could not wait to propose marriage.
Another
day, I went to a jewelry UGG Classic Cardy
store to buy a gift proposal.
Ugg boots are certainly not foreign to
the people of fashion. As winter comes, there are so many girls choose
ugg boots. There is no doubt that the ugg boots are so special and
fashionable. Frankly, even men UGG Classic Tall can not resist the temptation ugg boots.
Look&nbsp...
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated ( Jumat, 12 Februari 2010 )
 
< Prev   Next >