Tanpa
tahu mengapa, ia terdengar sebagai satu di antara deretan nama yang
menjulang tinggi ke angkasa Indonesia. Namun, lantaran jarak generasi,
ia lebih terdengar sebagai gema ketimbang suara.
Ketika mulai
melek-huruf, sesekali saya membaca renungan-renungannya dari penjara
dan pembuangan. Sebagai anak muda, saya merasa renungan-renungan itu
menyimpan teka-teki yang misterius tetapi menawan. Saya kadang membaca
ulasan dari para ahli atau juga kenang-kenangan dari para muridnya,
pengagum, dan kritikus Sjahrir. Namun, jauh dalam hati, saya merasa ada
yang selalu saja lolos dari genggaman ulasan dan refleksi kenangan itu.
Saya tidak mengerti apa. Mungkin itu suara keabadian yang tak pernah
tertampung oleh keterbatasan. Mungkin juga karena Sjahrir terlalu besar
untuk kita, atau kita terlalu kecil untuk Sjahrir.
Dilema pilihan
Sebagai
ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada Sjahrir, perkenankan saya
mengajukan satu kemungkinan memahami mengapa Sjahrir selalu lolos dari
genggaman ideologi yang pasti. Ia seorang sosialis, tetapi corak
sosialismenya terlalu licin untuk dipatok dalam kategori sosialisme
yang luas dipahami. Dalam pemahaman sederhana saya, itu lantaran
Sjahrir adalah seorang yang menghidupi dan memeluk erat-erat apa yang
akan saya sebut "jalan paradoks".
"Paradoks" adalah posisi atau
sikap yang kelihatan kontradiktif atau tidak masuk akal karena secara
logis tampak tidak konsisten, tetapi sesungguhnya mengandung
?kebenaran? lebih tinggi karena didasarkan pada fondasi lebih kokoh dan
lebih lengkap daripada yang tampak. Ambillah satu contoh kecil. Kita
mungkin pernah mengalami luka batin yang dalam. Luka batin tidak akan
sembuh dengan kita tolak, tetapi justru dengan kita peluk/terima
sebagai bagian sejarah hidup, luka batin itu akan pergi/sembuh. Suatu X
dicapai bukan dengan kategori yang sama (yaitu X), tetapi melalui
non-X. Dalam ungkapan penyair Jerman, Friedrich Schiller, yang diangkat
Ignas Kleden dalam pengantar buku Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati,
Pejuang Kemanusiaan (2010), hidup hanya dimenangkan dengan
mempertaruhkan hidup itu sendiri.
Paradoks tampil dalam berbagai
wajah. Salah satunya adalah dilema pilihan. Namun, ada beda antara
dilema praktis dan dilema eksistensial. Contoh dilema praktis adalah
jika kita harus memilih salah satu dari dua acara yang diadakan pada
waktu yang bersamaan karena secara fisik kita tak mungkin berada di dua
tempat sekaligus. Ketidaksanggupan kita berada di salah satu acara
bukan cacat atau ketidakmatangan pilihan, tetapi persis kelugasan
pilihan praktis yang sederhana. Banyak dilema pilihan adalah dilema
praktis seperti itu. Perkaranya kadang kecil, kadang besar. Putusan
Sjahrir bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan Jepang juga
bercorak dilema praktis semacam itu.
Akan tetapi, mana yang
dipilih Sjahrir: nasionalisme atau internasionalisme, kebebasan
individual atau solidaritas sosial? Boleh juga itu berupa dilema aksi
atau refleksi, spontanitas individu atau tertib tatanan, yang lokal
atau yang global, roh atau materi, dan sebagainya? Itulah dilema-dilema
eksistensial. Ia disebut ?eksistensial? sebab tegangan-tegangan itu
secara niscaya senantiasa terlibat dalam perjuangan kita meraih
kualitas hidup-personal ataupun hidup-bersama yang bermutu dan matang.
Dengan kata lain, dilema memilih ?kebebasan individual atau solidaritas
sosial? adalah oposisi semu. Memilih salah satu dengan menyingkirkan
yang lain adalah resep pasti menuju kesesatan dan ketidakmatangan.
Keduanya hanya perlu dipeluk erat-erat dan dihidupi dalam tegangan
abadi sebagai paradoks eksistensial.
Jika alam tidak suka
kehampaan, politik tidak suka kerumitan. Itulah mengapa dunia politik
praktis berisi kelugasan kubu-kubu pilihan eksklusif "ini atau itu".
Pilihan eksklusif itu tentu sering niscaya lantaran ia dilema praktis
yang sederhana. Akan tetapi, pada banyak momen lain, dunia politik juga
berisi dilema-dilema eksistensial: kebebasan atau solidaritas, nasional
atau global?
Tergelincir ke salah satunya adalah resep pasti
menuju kesesatan. Yang diperlukan adalah menghidupinya sebagai tegangan
abadi. Itulah mengapa dalam diri Sjahrir, kita menemukan keengganan
tetapi sekaligus kesediaan terhadap dunia politik. Dalam bahasa Sol Tas
yang mengenal Sjahrir: "Dia terlibat dalam politik dari rasa kewajiban,
bukan dari minat".
Mengenali patologi
Seperti
apa Sjahrir menuliskan jalan paradoks itu? Dari serakan
renungan-renungannya, beginilah contoh ia meyakini jalan paradoks itu:
"Hanya
merekalah yang sudah matang dan mengerti akan kehidupan oleh
pengalaman, tidak lagi menyobek kehidupan itu dalam dua bagian yang
bertentangan satu dengan yang lain; tapi mereka itu melihat
peralihan-peralihan, sambungan-sambungan, percampuran-percampuran dari
kedua bagian itu" (Surat 16 Desember 1934).
Kali lain, Sjahrir menulis prinsip menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas:
"Suatu
perasaan yang luas dan dalam, suatu rasa bahagia yang sungguh-sungguh,
tidak pernah eksklusif. Kita ingin membaginya kepada orang lain...
Sebab itu kukira kebahagiaan pribadi yang setinggi-tingginya yang bisa
kita raih, mestilah berbarengan dengan kebahagiaan umum umat manusia?
(Surat 22 Juli 1934).
Sjahrir menulis, memilih salah satunya adalah "gambaran manusia yang belum matang".
Apa
yang boleh kita pelajari dari keluhuran jalan paradoks Sjahrir itu?
Pertama, silakan mengenali patologi apa yang sedang membusukkan periode
sejarah kita dewasa ini? Apakah ia ekstremisme agama, ekstremisme
pasar, globalisme, ataukah campuran semua itu? Menurut jalan paradoks
Sjahrir, ekstremisme adalah buah busuk dari ketidakmatangan pribadi dan
kolektif. Terhadap patologi itu,
jalan menuju kematangan
hidup pribadi dan berbangsa menuntut kita melancarkan gerakan balik.
Kedua, jalan paradoks Sjahrir juga mengajar kita bahwa pemimpin politik
sejati bukanlah mereka yang haus akan kursi dan kekuasaan, tetapi
mereka yang justru punya sikap curiga dan skeptis terhadap kekuasaan
dan jabatannya.
Saya belum pernah bertemu muka dengan Sjahrir.
Pada hari pemakamannya, saya bahkan belum tahu menulis dan membaca.
Akan tetapi, bahwa sekian tahun kemudian saya boleh belajar dari
Sjahrir tentang rahasia kehidupan dan tentang ?jalan paradoks? bagi
kematangan politik, ekonomi, budaya, dan intelektual suatu bangsa, itu
sudah sebuah kegembiraan.
Sjahrir memang tidak bisa lagi bersuara, tetapi ia tetap nyaring bergema.
B Herry Priyono Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.