Oleh karena itu, kata pendiri Econit,
Rizal Ramli, dalam diskusi terbatas "Proyeksi Ekonomi 2010: Tahun
Penentuan", Kamis (14/1) di Jakarta, hal itu akan membuat pemulihan
ekonomi Indonesia 2010 sangat rentan.
Dia menjelaskan, penuntasan
masalah dana talangan Bank Century menjadi kunci untuk mengembalikan
kepercayaan bahwa Indonesia konsisten menegakkan hukum. ?Hambatan lain
adalah rendahnya daya saing,? kata Rizal.
Pertumbuhan ekonomi
2010 yang diprediksi 5,7 persen, menurut Rizal, relatif rendah
dibandingkan dengan potensinya. Selain itu, pertumbuhan itu berkualitas
rendah karena didorong konsumsi, kenaikan harga komoditas, utang
berbiaya tinggi, banjirnya dana spekulatif jangka pendek, dan
hot money.
Kinerja
ekspor diperkirakan tumbuh 9 persen, tetapi hanya didominasi komoditas
primer, seperti minyak dan gas, batu bara, serta logam.
Perdagangan bebas
Dengan
berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China, kata Rizal, akan
terjadi percepatan impor barang konsumsi. "Deindustrialisasi berlanjut
dan mendorong perlambatan pertumbuhan impor bahan baku dan mentah,"
kata dia.
Percepatan deindustrialisasi dan kian ketatnya
persaingan di era pasar bebas ASEAN-China akan menghambat pemulihan
berbagai sektor ekonomi. Ini karena persoalan daya saing.
"Untuk
membangun industri kompetitif butuh perbaikan infrastruktur, membangun
industri olahan dan komponen produksi, suku bunga dan nilai tukar
rupiah jangan terlalu kuat, tingkatkan produktivitas," ujar dia.
Direktur
Eksekutif Econit Advisory Group Hendri Saparini mengatakan, keputusan
Indonesia mempercepat liberalisasi tak diikuti penyiapan ekonomi untuk
memasuki kompetisi yang makin ketat. Padahal, semua negara yang
berhasil membangun industri kompetitif dan produktif, strategi dan
kebijakan industri menjadi salah satu prasyarat wajib.
Hal itu
jadi referensi bagi pembangunan industri utama dan penyiapan industri
pendukung, yang jadi landasan pemerintah dalam menjalin kerja sama.
"Tanpa ada referensi, akan terjadi banyak urutan prioritas kebijakan yang salah," kata dia.
Dia
menegaskan, keputusan mendahulukan liberalisasi sektor keuangan tanpa
menunggu kesiapan sektor riil adalah salah langkah. "Gejolak indikator
finansial akan mengganggu kinerja sektor riil," ujar Saparini.
(EVY)