Bank CIMB Niaga,
misalnya, ikut pula mendirikan perusahaan patungan dengan Sun Life,
bernama CIMB-Sun Life untuk menggarap bancassurance.
Model lain,
tidak perlu membentuk perusahaan patungan, tetapi cukup bekerja sama
pemasaran. Model ini dilakukan oleh perusahaan asuransi Prudential Life
Assurance (Prudential Indonesia). Perusahaan yang induknya berbasis di
London, Inggris, itu agresif bekerja sama dengan sejumlah bank asing
dan nasional dalam pemasaran produknya, di samping jalur distribusi
tradisional asuransi, yakni keagenan.
Baru-baru ini Prudential
Indonesia dan Bank Permata mengumumkan terbentuknya kerja sama
strategis untuk meningkatkan bisnis bancassurance kedua perusahaan di
Indonesia. Ini melengkapi kerja dengan bank sebelumnya, yakni Bank BRI,
UOB Buana, Danamon, Standard Chartered, dan Citibank.
Dalam skema
kerja sama bancassurance, Prudential Indonesia akan menjadi penyedia
produk asuransi jiwa terkait investasi secara eksklusif bagi nasabah
Bank Permata. Produk ini akan dijual kepada nasabah Bank Permata
melalui jaringan 286 kantor cabang bank tersebut yang tersebar di
seluruh Indonesia, yang dapat meningkatkan akses nasabah terhadap
produk dan solusi asuransi jiwa yang terbaik di kelasnya.
Prudential,
salah satu perusahaan asuransi jiwa terbesar di Indonesia, pertama kali
memperkenalkan produk asuransi jiwa terkait investasi (unit link) di
Indonesia pada tahun 1999 dan saat ini merupakan pemimpin pasar
kategori produk tersebut.
"Sejalan dengan model bisnis yang
berfokus pada nasabah, kami secara konsisten memenuhi kebutuhan nasabah
akan produk dan layanan yang berkualitas. Untuk memenuhi kebutuhan
nasabah akan produk bancassurance yang semakin meningkat, Bank Permata
menjalin kerja sama dengan Prudential Indonesia sebagai salah satu
perusahaan asuransi terdepan," kata David Fletcher, Direktur Utama Bank
Permata,
Kevin Holmgren, Presiden Direktur Prudential Indonesia,
menambahkan, "Kami memiliki strategi yang berhasil dalam menjalin kerja
sama dengan lembaga-lembaga keuangan terkemuka di Indonesia. Kami
sangat senang dapat menjalin kemitraan yang baru dengan Bank Permata
yang akan memperluas jangkauan kami di pasar dan memungkinkan kami
untuk menyediakan ragam produk dalam memenuhi kebutuhan investasi dan
perlindungan bagi nasabah Bank Permata di seluruh Indonesia."
Bank
Permata, yang merupakan hasil merger lima bank, yaitu Bank Bali, Bank
Universal, Bank Artamedia, Bank Patriot, dan Bank Prima Ekspress pada
tahun 2002, melayani sekitar 1,9 juta nasabah di 55 kota di Indonesia
dengan 268 cabang konvensional dan 10 cabang syariah. Sementara
Prudential Indonesia, yang didirikan pada tahun 1995, merupakan
perusahaan asuransi jiwa terdepan di Indonesia. Prudential Indonesia
memiliki tujuh kantor pemasaran dan 192 kantor keagenan, serta memiliki
85.000 lebih jaringan tenaga pemasaran yang melayani lebih dari 846.000
nasabah.
Kolaborasi semacam itu juga berkontribusi signifikan
dalam meningkatkan kinerja Prudential. Total pendapatan premi tahun
lalu, misalnya, mencapai Rp 7,5 triliun, naik 6,56 persen dari tahun
2008, dengan kenaikan total premi reguler sebesar 28 persen.
Total
bisnis barunya Rp 3,3 triliun. Total dana kelolaan yang kini mencapai
Rp 15,9 triliun meningkat sangat signifikan sebesar 76,56 persen dari
tahun 2008.
Kolaborasi
Perpaduan jaringan
kantor bank dan ekspertis perusahaan asuransi menjadi kunci
keberhasilan bancassurance untuk menjangkau semakin banyak nasabah.
Bank Mandiri, misalnya, memiliki jaringan lebih dari 1.000 kantor
cabang. Padahal, AXA-Mandiri baru menggarap nasabah kartu kredit Bank
Mandiri. Jika jangkauan AXA-Mandiri diperluas untuk menggarap nasabah
Bank Syariah Mandiri, potensi pasarnya tentu kian luas.
CEO AXA
Asia Tenggara, David Matthews, mengakui pengembangan jalur distribusi
memang harus agresif. "Kami percaya akan multiakses, yakni pengembangan
bisnis sesuai profil nasabah dan diutamakan bagi kenyamanan nasabah,"
katanya.
Jika rata-rata perusahaan asuransi mengembangkan jalur
bisnis 90 persen melalui keagenan, di AXA hanya 50 persen. Sisanya
melalui jalur distribusi lain sehingga lebih merata sesuai dengan
profil dan kebutuhan nasabah, termasuk bancassurance.
Salah satu
jalur distribusi AXA Indonesia yang cukup fenomenal adalah
telemarketing, yakni penjualan produk asuransi melalui telepon. "Total
premi tiap bulan sekitar Rp 30 miliar sampai Rp 40 miliar dari jalur
ini,"tambah CEO AXA Indonesia, Randy Lianggara.
Menurut David
Matthews, tantangan di Indonesia ialah bagaimana melakukan edukasi
mengenai asuransi kepada masyarakat. Namun, ini sekaligus kesempatan
yang sangat baik karena penetrasi pasar asuransi di Indonesia baru 3
persen dari produk domestik bruto (PDB) sehingga masih banyak
kesempatan untuk memperluas bisnis.
Tahun 2009, AXA South East
Asia mengalami pertumbuhan bisnis baru (premi) hingga lebih dari 50
persen, sementara AXA Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 70 persen
senilai sekitar Rp 1,5 triliun. Apalagi pasar Indonesia termasuk stabil
dengan pertumbuhan PDB 5-7 persen, di atas rata-rata negara lainnya.
Untuk pertumbuhan asuransi mencapai dua kali lipat pertumbuhan PDB.
Melihat
fenomena tersebut, sepantasnya pula jika perusahaan asuransi domestik
tak ketinggalan meramaikan pasar bancassurance Indonesia sebab
potensinya memang cukup besar. Jangan sampai agresivitas perusahaan
asuransi asing itu tak diimbangi, lalu di kemudian hari "berteriak"
mengenai dominasi asing di pasar asuransi nasional.
(DIS)